Menurut Centers for Disease Control and Prevention, persentase anak 6-11 tahun yang obesitas meningkat dari 7% sampai 20% pada periode 1980-2008. Begitupula dengan anak usia 12-19 tahun, yakni dari 5% hingga 18%.
Tim peneliti berusaha mencari tahu bagaimana anak-anak merespon iklan beragam makanan. Mereka menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) yang mengukur aktivitas otak dengan aliran darah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, setelah melihat logo makanan, area otak yang terkait reward lebih aktif pada anak obesitas dibanding anak dengan berat badan normal. Sebaliknya, bagian otak yang berhubungan dengan kontrol diri lebih aktif pada anak-anak berberat badan sehat daripada anak obesitas.
Untuk meyakinkan bahwa kondisi semua anak setara, peneliti meminta mereka membuat rating rasa lapar sebelum penelitian dilakukan. Hasilnya, menurut studi yang dimuat di Journal of Pediatrics ini, kedua grup memiliki skor sama.
"Pengambilan keputusan terkait kesehatan bisa bergantung dari kemampuan meningkatkan kontrol diri dan kognisi," kata peneliti, seperti dikutip dari My Health News Daily (30/11/12).
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa ketidakmampuan menunda gratifikasi bisa berpengaruh terhadap BMI. Melibatkan latihan kontrol diri dengan obesitas dan intervensi kesehatan perilaku dapat membawa kesuksesan lebih besar dalam usaha penurunan berat badan.
Saat ini, perusahaan makanan dan minuman di Amerika Serikat mengeluarkan lebih dari $10 miliar (lebih dari Rp 96 triliun) per tahun. Dana ini dipakai untuk memasarkan produk mereka kepada anak-anak Amerika. Tujuannya adalah untuk membangun pengakuan, preferensi, dan loyalitas terhadap brand.
(dyh/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN