Di tempat ini, ada jaminan rasa Indonesia yang original dari aneka masakan yang disajikan. Pemilik restoran memang sengaja tidak mengubah konsep menu asli walaupun hanya mampu menyedot pelanggan orang Indonesia dan warga Asia lainnya. "Hanya 10 persen pelanggan kita bule Australia," ujar salah satu pramusaji.
Meski tidak di tengah kota, restoran dengan 42 kursi ini memang memiliki tempat strategis. Tidak jauh dari Konsulat Jenderal Indonesia Sydney. Aneka makanan maknyus bisa dinikmati dengan harga relatif murah untuk ukuran setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ada juga yang berupa nasi, seperti nasi rendang dan ayam goreng yang dipatok Rp 100.000. Di sini juga ada empal gepuk, gudeg komplet, hingga nasi padang. Bahkan aneka krupuk kampung hingga roti-roti ala lebaran juga dijual dengan gaya khas Indonesia. Tentu dengan harga setempat yang tidak bisa dibandingkan dengan harga di Indonesia.
Meskipun berkapasitas restoran menengah, rumah makan ini dalam setahun mampu meraup pendapatan sekitar Rp 2 miliar. Umumnya yang mampir adalah mahasiswa dan pekerja dari Indonesia. Dari keuntungannya, sang pemilik telah mampu membeli rumah, mobil, dan juga mendatangkan orang tua mereka berdua untuk tinggal di Sydney.
Menurut pemilik restoran Sugianto dan istrinya, Hargalena, bisnis makanan di negeri orang memerlukan kegigihan. Selepas menyelesaikan kuliah di universitas setempat, tahun 2003 mereka berdua mendirikan restoran ini dengan modal Rp 1,5 miliar. Uang yang demikian banyak tersebut diinvestasikan untuk tempat, peralatan, dan bahan masakan yang umumnya mudah dibeli di pasar setempat.
Karena orang tuanya merupakan ahli masakan Indonesia, Hargalena membidik pasar WNI yang jumlahnya lebih dari 20 ribu dan juga warga negara-negara tetangga. Itulah mengapa, ia bermain masakan original dan tidak mau menyesuaikan dengan lidah bule setempat.
Untuk pekerjanya, mereka merekrut mahasiswa Indonesia. Setelah ditraining, maka mahasiswa bekerja sesuai keterampilan masing-masing. Ada yang jadi pelayan, ada pula yang bertanggung jawab atas kebersihan. Per jam, seorang pekerja dibayar Rp 150.000, sesuai kesulitan pekerjaannya. "Mereka senang, kitapun senang," kata Sugianto sumringah.
Kesuksesan pasangan ini dalam berbisnis makanan juga berkat menjaga kebersihan dan kualitas makanan yang disajikan. Setelah 11 tahun bekerja keras dan mendapat penilaian tahunan dari pemerintah setempat, akhirnya pada tahun ini 'Mie Kocok Bandung' mendapatkan sertifikat excellent alias bintang lima untuk urusan hygiene and food safety.
"Inilah capaian tertinggi kami yang masih jarang diraih restoran Indonesia lain di Sydney," ujar Sugianto dengan bangga.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN