Keistimewaan Jogja dalam Gudeg Kanjeng

- detikFood Senin, 03 Okt 2011 11:28 WIB
Jakarta - Sudah terlalu sering saya ditanya tentang gudeg favorit. Sebetulnya, jawaban terhadap pertanyaan itu sangat bergantung pada kota yang menjadi acuan. Di Semarang, jagoan saya adalah Gudeg Abimanyu. Di Solo, Adem Ayem (yang juga punya cabang di Jogja). Di Jakarta, saya punya empat jagoan: Pak Amat di Mayestik, Mbak Yayuk di Pejompongan, Bu Henny di Pasar Mampang, dan RM Jogja di Tebet. Lha, di Jogja sendiri? Bagi saya – maaf bila ini akan menimbulkan "perseteruan" di antara kita – adalah Gudeg Bu Yani. Hanya buka malam di Jl. K.H. Ahmad Dahlan, Kauman, Yogyakarta.

Dulu Bu Yani buka cabang di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Cabang Jagakarsa ini sudah tutup. Sekarang, untungnya, cabangnya malah sudah dua: Gudeg Kanjeng di Bulungan (alamat lengkap di bawah), dan Gudeg Prabu di Cinere (dekat lapangan golf Pangkalan Jati, 021 70639114) – keduanya di Jakarta Selatan.

Mengapa saya suka Gudeg Bu Yani? Pertama, karena gudegnya tidak semanis rata-rata gudeg Jogja. Kedua, karena "model"-nya persis di antara kedua gagrak umum: basah dan kering. Gudeg Bu Yani berwarna merah, nyemek (alias: tidak basah maupun tidak kering), dan tekstur nangka mudanya masih cukup kenyal. Inilah citarasa gudeg yang paling pas untuk saya.

Sayangnya, tidak seperti di Bu Yani aslinya di Jogja, di sini tidak ada sambal pete yang bikin William Wongso tergila-gila. Sambalnya sampai berwarna hitam – karena tangkai cabe rawitnya ikut diuleg – dengan pete yang mungkin hanya digoreng sebentar. Puedessss buanget!

Harga-harga makanan di sini pun sangat pantas. Nasi gudeg komplet hanya dihargai Rp 23 ribu. Isinya: paha/dada ayam (boleh dipilih: ayam goreng atau ayam opor), gudeg, sambal goreng krecek/tahu, sepotong tahu putih, sebutir telor pindang, rebusan daun singkong, topping-nya adalah siraman santan kental atau areh gurih. Dijamin merem-melek kalau sudah menghadapi santapan ini.

Selain gudeg, RM Gudeg Kanjeng juga menyediakan berbagai jenis masakan rumahan (home-cooked meals) yang semuanya patut diacungi jempol, antara lain: nasi liwet (Rp 21 ribu), asem-asem tetelan (Rp 25 ribu), mangut lele/patin (Rp 15 ribu), nasi tumpang telur (Rp 16 ribu), pecel lele (Rp 16 ribu), dan garang asem (Rp 19 ribu). Percaya saya. Garang asem-nya mak nyuss! Citarasa asamnya diperoleh dari blimbing wuluh dan tomat hijau. Sangat mirip dengan garang asem favorit saya di Kudus, tetapi tingkat kepedasannya sudah dijinakkan sedikit.

Jangan lupa, kalau terlanjur kesengsem dengan jenis gudeg yang satu ini, juga tersedia besekan untuk dibawa pulang. Di sini juga tersedia bubur lemu (bubur beras yang dimasak dengan santan), sebagai pengganti nasi. Wuihhhh, ini favorit saya, mah. Makan bubur dengan gudeg atau dengan sambal tumpang. Tobat, tobaaat!

Gudeg Kanjeng
(Ibu Yani Jogja)
Jl. Hang Tuah X (samping Lapangan Tenis Bulungan)
Kebayoran Baru, Jaksel
021 71594977, 94508239
(dev/Odi)