Citarasa dan Suasana Hadramaut, Tapi di Puncak

Citarasa dan Suasana Hadramaut, Tapi di Puncak

- detikFood
Rabu, 11 Agu 2010 11:33 WIB
Jakarta - Marhaban ya Ramadan! Bulan seribu bulan telah tiba. Buka puasa di mana?

Sejak kunjungan saya ke Sana'a, Yaman, beberapa tahun yang silam, setiap Ramadan saya selalu terkenang akan acara buka puasa dahsyat yang pernah saya alami di kota yang nyaris purba itu. Sampai, tiba-tiba, saya menemukan sebuah rumah makan - letaknya bahkan tidak jauh dari rumah saya - yang menyuguhkan citarasa dan suasana sangat mirip dengan Yaman.

Rumah makan itu bernama Kamannana, terletak di lintasan ramai Bogor-Puncak, sekitar satu kilometer setelah pertigaan Taman Safari. Selain hidangannya yang sangat khas Yaman, kebanyakan tamunya ternyata juga warga Yaman yang banyak menghuni kawasan di sekitar situ. Mereka membawa suasana Yaman secara kental, termasuk tradisi mengunyah daun gaj yang membuat pipi mereka menggelembung. Cairan dari daun gaj ini - konon - mirip doping yang dapat membuat seseorang berenergi panjang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perlu diingat bahwa mayoritas warga keturunan Arab di Indonesia adalah keturunan Hadramaut, Yaman. Menurut informasi yang saya peroleh, jumlahnya mencapai lebih dari lima juta orang. Tidak heran bila kebanyakan sajian yang kita kenal dengan "Masakan Arab" di Indonesia sebenarnya adalah masakan Yaman.

Sebagai ta'jil untuk berbuka puasa, sebaiknya memesan humus (pasta chickpeas) dan mutabbal (pasta terong) yang dicocol dengan roti tanory atau juga dikenal dengan nama hobus. Tentu juga di sini ada samosa (isi daging maupun keju) yang cocok sebagai hidangan pembuka. Didampingi dengan teh susu atau kopi Arab yang dibumbui dengan kapulaga, kayu manis, cengkeh, jahe, dan lada hitam.

Setelah siap dengan hidangan utama, tidak ada pilihan lain kecuali memesan nasi mandi (juga disebut nasi khabsah atau kabuli) dengan pilihan daging kambing oven atau daging ayam oven. Biasanya, satu nampan dihadapi empat orang makan bersama lesehan. Porsi nasi mandi dan kambing bakar untuk empat orang ini diharga sekitar Rp 120 ribu. Cukup murah bila diingat bahwa nasi mandi harus dibuat dari beras basmati yang harganya Rp 55 ribu per kilo.

Nasi mandi Kamannana dijamin akan membuat Anda kembali lagi ke sini. Tetapi, yang sungguh-sungguh mati-mati-mesti-coba (die die must try), adalah kambing oven-nya yang luar biasa mak nyuss!

Untuk mendampingi nasi kabuli dan daging panggang istimewa ini, pesan juga salata hadra (acar sayuran) atau salata khiar balaban (rajangan timun dan yoghurt, disebut raita di India), dengan marag laham (sop kambing, Rp 16 ribu), atau surba krem dujaj (sop ayam).

Seorang teman saya "menemukan" pairing yang sangat cocok antara nasi khabsah dengan minuman dingin Coca-Cola. "A pairing made in heaven," katanya sambil menyeka sisa-sisa nasi di mulutnya. (Bondan Winarno)

Kamannana
Jalan Raya Puncak Tugu
Km 83,8 Cisarua, Bogor
0251 8252424, 8256969


(dev/Odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads