NeNo juga sebuah referensi yang saya dapat dari Jane. Restoran kecil ini bersaing ketat dengan beberapa nama besar di sekitar kawasan eksklusif Petitenget, Seminyak - seperti Ku De Ta, Metis, dan lain-lain. Tetapi, fokus NeNo untuk melayani tamu yang tidak makan daging dan tidak minum susu, menjadikannya unik di antara yang lain.
Gaya vegetarianisme yang dianut NeNo mungkin termasuk yang paling ekstrem. Dari namanya saja, sikap itu tercermin jelas, karena NeNo adalah singkatan dari no egg, no onion. Kalau mau dipanjangkan "pantangan" lainnya, ia akan termasuk: no meat, no dairy products, no garlic, no shallot, dan seterusnya. Maklum, penganut vegetarian yang beragama Buddha menganggap bawang putih dan bawang bombay pun dapat membangkitkan sesuatu yang tidak mustahak benar untuk dibangkitkan di dalam diri manusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lho, kok ada udang dan ayam? Nah, inilah sebetulnya yang selalu mengecewakan saya dari sebuah resto vegetarian. Apa point-nya untuk menghadirkan tiruan udang dan ayam dari bahan-bahan gluten dan terigu? Saya selalu suka masakan vegetarian yang murni tampak sayur - bukan daging palsu.
Jangan khawatir! Pilihan saya di NeNo adalah Baked Rice Gratin (Rp 14 ribu) - sajian fusion Portuguese-Chinese yang populer di Macao. Nasinya gurih, berbasis tomat, dan diisi dengan potongan jamur. Ada juga Potato Gratin (Rp 14 ribu), dibuat dari baby potato kecil-kecil, dengan bumbu tomat dan berbagai herba harum. Bagi yang tidak strict vegan, di atasnya diberi topping parutan keju mozzarella sehingga meleleh ketika dipanggang. Top markotop! (Bondan Winarno)
NeNo (No Egg No Onion)
Jl. Petitenget 2X
Seminyak, Bali
+623619103003
nenobali@gmail.com
(dev/Odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN