Waspada! 5 Kebiasaan Makan yang Bisa Menjadi Tanda Awal Demensia

Waspada! 5 Kebiasaan Makan yang Bisa Menjadi Tanda Awal Demensia

Beta Lukitasari Wijaya - detikFood
Rabu, 16 Sep 2026 05:00 WIB
Ilustrasi demensia
Foto: Getty Images/Filmstax
Jakarta -

Perubahan kebiasaan makan bisa menjadi salah satu tanda demensia. Mulai dari lupa makan hingga mendadak gemar makan manis, ini lima tanda yang perlu dicermati.

Demensia umumnya dikaitkan dengan gangguan daya ingat. Padahal, perubahan kecil saat makan juga dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan, terutama jika muncul secara tiba-tiba dan berlangsung terus-menerus.

Dr. Majid Fotuhi, ahli saraf sekaligus profesor di Johns Hopkins University, mengungkap kebiasaan seperti menyederhanakan menu, kehilangan selera makan, hingga mendadak menyukai makanan manis dapat berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, perubahan tersebut tidak selalu berarti demensia karena bisa dipicu kondisi lain. Karenanya, perubahan kebiasaan makan yang tidak biasa sebaiknya diperiksa lebih lanjut oleh tenaga medis untuk mengetahui penyebabnya secara tepat sejak awal.

Dilansir dari HuffPost (14/09/2026), berikut kebiasaan makan yang bisa jadi tanda awal demensia.

ADVERTISEMENT

1. Mendadak Malas Masak

Crying man with pan on head on gray backgroundMalas masak. Foto: Getty Images/iStockphoto

Seseorang yang biasanya rajin memasak hidangan rumit kemudian beralih membuat makanan sederhana perlu diperhatikan, terutama jika akhirnya berhenti memasak sama sekali.

Ahli saraf Dr. Joel Salinas menjelaskan, memasak membutuhkan kemampuan merencanakan dan melakukan beberapa tahapan secara berurutan.

Kemampuan tersebut dapat terganggu pada penderita demensia. Ahli saraf Dr. Adam Mednick menambahkan, kesulitan merencanakan menu, berbelanja bahan makanan, hingga menyiapkan hidangan dapat menjadi tanda awal.

Namun, berhenti memasak makanan rumit saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami demensia.


2. Kehilangan Nafsu Makan

Kerusakan otak pada seseorang dapat mengurangi kemampuan penciuman sehingga makanan sering terasa hambar, mengingat sebagian besar sensasi rasa sebenarnya berasal dari indra penciuman.

"Berkurangnya kemampuan penciuman menghilangkan banyak kenikmatan dari makanan. Seseorang dengan demensia mungkin merasa makanan terasa hambar," jelas Salinas.

Depresi yang lebih berisiko dialami penderita demensia juga dapat mengurangi ketertarikan terhadap aktivitas sehari-hari, termasuk makan. Suasana makan yang terlalu ramai pun bisa membuat mereka kesulitan fokus dan merasa tertekan.

3. Sering Lupa Makan

makan siang di meja kerja tidak sehatLupa makan. Foto: Getty Images/iStockphoto

Gangguan daya ingat dapat membuat penderita demensia lupa makan. Sebaliknya, mereka juga dapat lupa bahwa baru saja makan sehingga berisiko menyantap makanan kembali. Kondisi ini turut dipengaruhi perubahan kemampuan tubuh mengenali rasa lapar dan kenyang.

"Demensia membuat seseorang kesulitan memahami sinyal tubuh mengenai rasa lapar dan kenyang serta menghubungkannya dengan petunjuk dari luar, seperti waktu atau melihat makanan," ujar Mednick.

Akibatnya, pola makan dapat berubah ke dua arah, yaitu makan terlalu sedikit atau justru makan secara berlebihan.


4.Terus Memilih Makanan yang Sama

Kebiasaan menyantap menu yang sama setiap hari juga dapat muncul karena seseorang mulai kesulitan mengambil keputusan. Menentukan makanan membutuhkan beberapa proses, mulai dari memilih menu, membeli bahan, hingga mengolahnya.

"Ketika berpikir mulai terasa melelahkan, setiap keputusan membutuhkan usaha. Makan hidangan yang sama dapat menghilangkan satu keputusan dari aktivitas sehari-hari," jelas Salinas.

Makanan yang sudah dikenal juga terasa lebih aman karena mudah diprediksi. Menurut Dr. Majid Fotuhi, pola serupa dapat terlihat ketika seseorang terus memilih pakaian atau jadwal harian yang sama.


5. Gemar Makanan Manis

Ini 6 Alasan Mengapa Kamu Selalu Ngidam Makanan ManisIni 6 Alasan Mengapa Kamu Selalu Ngidam Makanan Manis Foto: iStock

Perubahan selera yang tiba-tiba mengarah pada makanan manis menjadi salah satu kebiasaan yang perlu diperhatikan.

"Peralihan ke makanan manis sejauh ini merupakan perubahan yang paling konsisten dilaporkan," ujar Mednick.

Menurut Fotuhi, kebiasaan tersebut terutama ditemukan pada penderita demensia frontotemporal (FTD), kelompok gangguan yang merusak lobus frontal dan temporal otak. Lobus frontal berperan mengendalikan dorongan dan pilihan makanan.

Ketika bagian tersebut mengalami kerusakan, kemampuan mengontrol keinginan makan dapat melemah sehingga muncul ketertarikan kuat terhadap makanan manis maupun makanan tinggi pati.

Halaman 2 dari 2
(sob/sob)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads