Ngeri! Jenis Makanan Ini Disebut Lebih Mematikan dari Rokok

Ngeri! Jenis Makanan Ini Disebut Lebih Mematikan dari Rokok

Sonia Basoni - detikFood
Kamis, 09 Apr 2026 11:30 WIB
Woman reaching for a donut from a table full of junk food, showing signs of sugar cravings, overeating, and unhealthy eating habits
Foto: Getty Images/Doucefleur
Jakarta -

Rokok sering dianggap sebagai salah satu penyebab munculnya berbagai penyakit, tapi dokter ini mengklaim ada satu makanan yang lebih berbahaya dari rokok. Begini penjelasannya.

Dalam sebuah perbincangan di podcast 'Diary of a CEO', dokter spesialis penyakit infeksi asal Inggris, Chris van Tulleken, menyebut bahwa konsumsi makanan olahan ultra-proses (UPF) lebih berbahaya dibandingkan kebiasaan merokok dalam kaitannya dengan risiko kematian dini.

Dilansir dari Mirror UK (06/04/2026), dalam wawancara tersebut, Chris menjelaskan bahwa selama ini orang-orang kerap salah kaprah dalam memahami kategori makanan berbahaya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selama ini kita bingung soal apa yang harus dimakan. Kita menyebutnya junk food atau makanan tinggi lemak, garam, dan gula, tapi tidak punya definisi yang jelas," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa istilah makanan ultra-proses atau ultra-processed foods (UPF) baru dikembangkan sekitar tahun 2009-2010 oleh para peneliti di Brasil, untuk menggambarkan pola makan industrial modern.

ADVERTISEMENT
Woman reaching for a donut from a table full of junk food, showing signs of sugar cravings, overeating, and unhealthy eating habitsContoh kelompok makanan UPF. Foto: Getty Images/Doucefleur

Jenisnya sendiri beragam, tapi UPF digolongkan sebagai jenis makanan yang melalui banyak tahap pengolahan, mengandung sedikit bahan makanan utuh, dan penuh akan bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, serta pemanis buatan. Jenisnya meliputi mie instan, sosis/nugget, minuman bersoda/manis kemasan, camilan ringan (keripik), roti komersial, sereal manis, dan makanan siap saji.

Menurut Chris, lonjakan konsumsi makanan ultra-proses berkaitan erat dengan meningkatnya berbagai penyakit kronis di banyak negara.

"Pola makan buruk, terutama yang tinggi makanan ultra-proses, kini sudah melampaui rokok sebagai penyebab utama kematian dini di dunia," jelasnya.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga di negara berkembang dan kelompok masyarakat yang berpenghasilan rendah.

Ia mencontohkan negara seperti Meksiko, Kolombia, dan Brasil yang sebelumnya memiliki tingkat obesitas rendah. Namun dalam waktu sekitar satu dekade setelah masuknya makanan olahan industri, obesitas menjadi masalah kesehatan utama.

"Dulu hampir tidak ada yang obesitas, tetapi 10 tahun kemudian hampir semua orang mengenal seseorang yang bagian tubuhnya diamputasi akibat diabetes tipe 2," katanya.

Chris juga menyoroti sifat adiktif dari makanan ultra-proses yang membuat orang sulit berhenti mengonsumsinya.

The concept of malnutrition. Lots of junk food with top view. Obesity.Lots of junk food and UPF. Obesity. Foto: Getty Images/iStockphoto/urfinguss

"Makanan ini bisa sama adiktifnya dengan tembakau, alkohol, bahkan narkoba bagi sebagian orang," ujarnya. Ia menambahkan bahwa konsumsi tinggi UPF telah dikaitkan dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis, gangguan kesehatan mental, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Meski demikian, Chris mengingatkan bahwa pendekatan dalam mengubah pola makan harus dilakukan secara bijak. Ia menilai bahwa memaksa atau memarahi seseorang untuk berhenti mengonsumsi makanan tidak sehat justru bisa berdampak sebaliknya.

"Pendekatan seperti itu cenderung membuat orang semakin terdorong melakukan hal yang sama," katanya. Chris menyarankan agar orang-orang mulai mengubah kebiasaan pola makan, serta beralih menyantap makanan yang lebih sehat dan bukan makanan olahan. Contohnya sayuran, buah-buahan, biji-bijian atau gandum.




(sob/adr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads