Banyak dapur rumah tangga kini dilengkapi air fryer. Namun, sempat viral dugaan risiko kanker dari penggunaan alat masak ini. Bagaimana faktanya?
Air fryer adalah solusi praktis untuk menikmati makanan renyah tanpa harus menggoreng dengan banyak minyak. Namun, di balik kepopulerannya, apakah memasak dengan air fryer bisa menyebabkan kanker?
Melansir dari WebMD (4/2), air fryer bekerja dengan teknologi sirkulasi udara panas berkecepatan tinggi. Makanan ditempatkan dalam keranjang berlubang, lalu udara panas diputar mengelilinginya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses ini menciptakan efek seperti menggoreng, tetapi dengan penggunaan minyak yang jauh lebih sedikit dibandingkan metode goreng biasa.
Ilustrasi air fryer. Foto: Food Network |
Beragam jenis makanan bisa diolah dengan alat ini. Kentang goreng, ayam tepung, stik keju, sayuran panggang, hingga makanan beku seperti nugget dan pizza mini dapat dimasak menggunakan air fryer.
Beberapa model bahkan memiliki fungsi tambahan seperti memanggang atau memanaskan ulang makanan, sehingga air fryer dianggap sebagai alternatif oven.
Dari sisi kesehatan, penggunaan air fryer dinilai dapat membantu mengurangi asupan lemak dan kalori karena minyak yang digunakan lebih sedikit.
Sebab pada metode menggoreng biasa, makanan direndam dalam minyak panas sehingga menyerap cukup banyak lemak. Sementara dengan air fryer, minyak hanya digunakan tipis atau bahkan tidak sama sekali, tergantung jenis makanannya.
air fryer Foto: iStock |
Saat makanan bertepung (pati) seperti kentang dimasak pada suhu tinggi, dapat terbentuk senyawa kimia bernama akrilamida. Senyawa ini muncul dari reaksi antara gula dan asam amino ketika terkena panas tinggi. Akrilamida dikaitkan dalam sejumlah penelitian dengan peningkatan risiko kanker, terutama jika terbentuk dalam jumlah besar.
Kabar baiknya, penggunaan air fryer justru menghasilkan kadar akrilamida yang lebih rendah dibandingkan jika kamu menggoreng dengan wajan. Pembentukan senyawa tersebut cenderung berkurang, karena prosesnya tidak melibatkan perendaman dalam minyak panas seperti deep frying.
Meski demikian, air fryer tetap bekerja pada suhu tinggi, bahkan bisa melebihi 200 derajat Celcius. Artinya, potensi terbentuknya senyawa hasil reaksi panas tetap ada, meskipun dalam kadar yang lebih rendah dibandingkan metode penggorengan biasa.
Untuk diketahui, metode masak bukan satu-satunya faktor penentu kesehatan makanan. Jika bahan yang dimasak tinggi lemak, gula, atau garam, hasil akhirnya tetap tidak serta-merta menjadi pilihan sehat hanya karena menggunakan air fryer. Tidak ada bukti bahwa alat ini dapat memicu kanker.
(raf/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN