Makanan rumahan kerap dianggap sebagai standar pola makan sehat. Anggapan makanan rumahan lebih enak juga kerap muncul. Namun bagaimana penjelasan ilmiah sebenarnya?
Makanan yang dimasak di rumah kerap memberi rasa aman bagi banyak orang karena bahan-bahannya dikenal, proses memasaknya terlihat, dan orang yang menyiapkannya dipercaya. Faktor emosional inilah yang sering membuat makanan rumahan otomatis dipersepsikan lebih sehat dan enak dibandingkan makanan dari luar, bahkan sebelum kandungan gizi atau cara pengolahannya benar-benar dipertimbangkan.
Dilansir dari Times of India (10/02/2026), anggapan bahwa makanan atau masakan rumahan lebih enak dan sehat memang memiliki dasar. Memasak di rumah memungkinkan seseorang mengontrol kualitas bahan makanan, porsi, serta kebersihan makanan. Selain itu rasa makanan juga dibuat familiar dengan selera orang di rumah. Hal inilah yang menyebabkan rasa makanan rumahan jauh lebih enak dari makanan di restoran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masakan Rumahan yang Sederhana dan Bikin Kangen Foto: Getty Images/yulkapopkova |
Dibandingkan dengan makanan di restoran atau produk makanan kemasan, masakan rumahan umumnya mengandung lebih sedikit bahan pengawet dan minim proses olahan. Selain itu, penggunaan garam, gula, dan lemak dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
"Sebagian besar orang menganggap masakan rumahan lebih sehat. Hal ini benar dalam kondisi tertentu, karena memasak di rumah memberi kendali penuh atas bahan, porsi, dan kebersihan makanan," ujar Dr. Santosh Kumar Agrawal, Direktur Penyakit Dalam di Yatharth Super Speciality Hospital, Faridabad, India.
Namun, anggapan bahwa semua makanan rumahan pasti sehat, tidak selalu tepat. Cara memasak dan pemilihan bahan tetap menjadi faktor penentu. Makanan yang digoreng berlebihan, penggunaan minyak, hingga mentega dalam jumlah besar, serta konsumsi gula yang tinggi tetap dapat berdampak buruk.
masakan rumah khas sunda. Foto: detikFood |
"Masakan rumahan juga bisa menjadi tidak sehat tergantung pada pilihan bahan dan metode memasaknya. Penggunaan minyak berlebihan, kebiasaan menggoreng, serta konsumsi karbohidrat olahan seperti nasi putih atau tepung maida tanpa keseimbangan protein dan serat dapat memicu ketidakseimbangan gizi." ujar Dr. Agrawal.
Faktor lain yang sering terabaikan dari makanan rumahan adalah variasi dan keseimbangan menu. Pola makanan rumahan yang sehat seharusnya mencakup biji-bijian utuh, sayur, buah, kacang-kacangan, protein tanpa lemak, serta lemak sehat.
"Keseimbangan dan variasi adalah kunci. Menghilangkan kelompok nutrisi tertentu justru mengurangi manfaat kesehatan dari masakan rumahan," tambah Dr. Agrawal.
Dengan demikian, makanan rumahan memang memiliki potensi besar untuk mendukung kesehatan fisik dan emosional, tetapi manfaat tersebut hanya tercapai jika diiringi dengan pemilihan bahan yang tepat, teknik memasak yang sehat, serta pola makan yang seimbang dan bervariasi.
(sob/adr)



KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN