Peneliti Jepang Kembangkan Ayam Penghasil Telur dengan Kandungan Obat Penting

Maya Safira - detikFood Senin, 09 Okt 2017 14:47 WIB
Foto: Istimewa Foto: Istimewa
Jakarta - Telur selama ini dikenal kaya akan nutrisi. Tapi peniliti di Jepang hendak membuat telur lebih istimewa yang bisa mengatasi berbagai penyakit.

Dengan kemajuan perawatan medis, perlu zat khusus untuk memerangi penyakit kompleks. Seperti hepatitis, kanker dan multiple sclerosis.

Sayangnya, produksi zat tersebut bisa sangat mahal. Ini pun menaikkan harga pengobatan secara signifikan. Misalnya saja, 44 mikrogram protein interferon beta harganya $4000 (Rp 54 juta) - $7000 (Rp 94,5 juta).

Peniliti Jepang Kembangkan Ayam Penghasil Telur dengan Kandungan Obat PentingFoto: Sora News 24


Baca juga: Mana yang Terbaik untuk Sarapan, Susu atau Telur?

Namun eksperimen terbaru dari Kansai Center of Industrial Technology Research Institute di Osaka telah berhasil mengembangkan sebuah metode. Kabarnya metode itu bisa mengurangi harganya jadi kurang dari $40 (Rp 540.000).

Dikutip dari SoraNews24 (9/10), ayam menjadi kunci untuk mencapai hal tersebut. Dengan menggabungkan DNA ayam, tim peneliti bisa membiakkan ayam dengan hasil telur mengandung protein penting yang dibutuhkan untuk penelitian dan pengembangan medis.

Dalam hal ini, ayam-ayam tersebut menghasilkan telur dengan interferon beta. Namun selain bisa dipakai dalam perawatan medis, itu juga merupakan reagen yang bisa memicu reaksi kimia untuk penelitian.

Karena produksi protein dengan cara ini hanya melibatkan pengembangan ayam, biaya bisa secara drastis dikurangi. Hanya untuk pakan ayam. Meski begitu, timbul reaksi pro kontra terhadap terobosan tersebut.

Peniliti Jepang Kembangkan Ayam Penghasil Telur dengan Kandungan Obat PentingFoto: iStock


Baca juga: Telur Mentah Lebih Bergizi dari Telur Matang, Apa Benar?

Ada masyarakat yang takut penelitian sudah melewati batasan. "Saya rasa mereka melangkah ke area tabu," sebut salah satu netizen.

Terdapat juga komentar yang melarang perubahan genetika. Ia mengatakan,"Berhentilah bermain-main dengan genetika, semua itu akan lahir dalam kegagalan." Tapi ada pula yang menganggapnya hal luar biasa.

Meskipun beberapa orang khawatir, rencana produksi protein dari ayam itu nampaknya terus berlanjut. Dijadwalkan telur akan masuk ke pasaran tahun depan.

Akan tetapi, awalnya telur hanya dijual sebagai sebuah reagen untuk penelitian setengah harga pasaran sekarang. Butuh waktu lebih lama agar telur bisa digunakan dalam pengobatan dengan harga sekitar 10 persen dari saat ini. (msa/odi)