Sebelumnya, kemasan junk food dicurigai mengandung bahan berbahaya di dalamnya. Sekarang tentang warna kemasan tersebut. Menurut seorang ahli syaraf terkemuka, makanan berlemak seharusnya dijual dalam kemasan polos untuk bantu lawan obesitas.
Wolfram Schultz, yang belum lama ini memenangkan Nobel Prize β¬1 million (Rp. 14 milyar) atas karyanya dalam memahami proses pembuatan keputusan oleh otak, mengatakan kemasan warna-warni dan iklan menarik makanan kaya kalori mendorong orang makan berlebih.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Thinkstock |
Dikabarkan oleh The Telegraph (6/3/17) , Schultz mengatakan bahwa pikiran dan indera dapat terkait dengan makanan tinggi kalori yang mendorong respon dopamin. Hal ini berkontribusi dalam pola makan tak sehat.
"Kita tidak seharusnya mengiklankan dan mendorong konsumsi kalori yang tidak dibutuhkan ini. Pembungkus warna-warni makanan tinggi energi membuat Anda membeli lebih banyak makanan itu. Sekali menaruhnya di kulkas,makanan itu muncul setiap Anda membuka kulkas dan pastinya Anda akan makan terlalu banyak" jelas Schultz.
Foto: Thinkstock |
Menanggapi Schlutz, Duncan Stephenson, Director of External Affairs, dari Royal Society for Public Health menunjukkan dorongannya.
"Setiap iniatif yang dapat membantu membuat pilihan lebih sehat patut untuk dieksplorasi. Memperkenalkan kemasan polos pada makanan tinggi lemak, gula, dan garam lebih kompleks dari kemasan polos untuk rokok. Tapi ini dapat dicoba untuk pemahaman lebih baik konsumen dan kebiasaan berbelanja mereka," ujar Duncan.
Foto: iStock |
Mereka bersama meneliti tentang bagaimana otak menggunakan agen 'reward' untuk belajar dan membentuk perilaku. Hasil ini pun memberikan efek pada studi perilaku ekonomi dan situasi bisnis, juga pengobatan akan masalah kecanduan seperti berjudi, kecanduan obat, dan perilaku kompulsif. (ani/ani)

Foto: Thinkstock
Foto: Thinkstock
Foto: iStock
KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN