Makanan Asin dan Kaya Protein Memicu Orang Sering Ngantuk Setelah Makan

Annisa Trimirasti - detikFood Kamis, 24 Nov 2016 09:49 WIB
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Ngantuk setelah makan bukan hanya terjadi pada manusia. Lewat penelitian pada hewan ditemukan makanan gurih memicu kantuk setelah makan.

Lalat buah yang makan terlalu banyak telah membantu para ilmuwan untuk memahami mengapa manusia cenderung tertidur setelah makan besar. Jutaan orang merayakan acara besar seperti Thanksgiving, Natal atau tahun baru mengantuk kemudian tidur setelahnya. Ilmuwan mengatakan tidur sebentar setelah makan sebagai food coma.

Meskipun porsi lalat buah mungkin kecil bagi manusia, serangga ini juga jatuh tidur sebentar setelah makan terlalu banyak.Para peneliti di kampus Scripps Research Institute Florida dan rekannya dari lembaga lain memutuskan untuk mencari tahu mengapa hal ini terjadi. Jenis makanan apa secara khusus yang mungkin memicu food coma.

Makanan Asin dan Kaya Protein Memicu Orang Sering Ngantuk Setelah MakanFoto: Getty Images

Peneliti utama Prof. William Ja departemen metabolisme di Scripps mempublikasikan penelitiannya dalam jurnal online, eLife tentang ilmu pengetahuan modern seputar lalat buah Drosophila melanogaster.

Tim peneliti mengembangkan sistem untuk mengukur perilaku tidur dan makan lalat buah. Kemudian menyaksikan apa yang terjadi setelah membantu memberi makan sajian favorit mereka 2 kali lipat.

Mereka menemukan lalat biasanya tidur 20 sampai 40 menit tepat setelah makan. Yang makan lebih banyak tidur lebih lama lagi.

Tim juga menemukan bahwa hanya makanan tertentu memicu respon ini, yaitu makanan kaya protein dan makanan asin. Keduanya mendorong food coma. Diluar dugaan, makanan manis tidak memiliki efek ini.

Makanan Asin dan Kaya Protein Memicu Orang Sering Ngantuk Setelah MakanFoto: Getty Images

Menurut Prof. Ja, setelah menunjukkan bukti terjadinya food coma pada lalat buah, tim yakin dengan cara ini mereka juga dapat meneliti hubungan antara makanan dan tidur pada serangga dengan manusia.

"Perilaku ini tampaknya ada di seluruh spesies, sehingga seharusnya penting untuk hewan karena beberapa alasan," tutup Prof Ja dikutip dari irishtimes.com (23/11/16).

(adr/odi)