Makanan Rumah Sakit

Kualitas dan Rasa Makanan Selalu Dievaluasi Agar Sesuai Selera dan Kebutuhan Pasien

Lusiana Mustinda - detikFood Sabtu, 03 Sep 2016 10:20 WIB
Foto: iStock/detikFood
FOKUS BERITA Makanan Rumah Sakit
Jakarta - Pihak rumah sakit mengevaluasi menu makanan rumah sakit secara berkala. Ada banyak hal yang bisa terlihat dari hal ini.

Meski makanan rumah sakit terjamin sehat dan dibuat sesuai kebutuhan gizi pasien, evaluasi tetap dilakukan. Baik dari segi kemampuan pasien menghabiskan makanan, rasa, dan variasi menu yang ditawarkan.

"Berdasarkan aturan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sisa makanan pasien tidak boleh lebih dari 20%. Ini adalah standar mutu pelayanan gizi," ujar Kepala Unit Gizi RS Puri Cinere, Tiny Kurnianih.

Ia menginformasikan, "Di rawat inap kita juga mengevaluasi kesanggupan pasien untuk makan. Sisa makanannya dilihat. Kalau pasien susah makan, kita modifikasi."

Menurut Tiny pemilihan menu tidak bersifat saklek. "Contohnya pasien harus dapat telur rebus, tapi dia tidak bisa atau tidak suka telur maka kita modifikasi. Kita cari makanan lain yang proteinnya setingkat telur."

Di RS Puri Cinere, menu selalu dipantau dan didiskusikan. "Pelayanan gizi itu hanya menunjang. Tetap yang bertanggung jawab penuh pada kesembuhan pasien adalah dokter. Kita diskusikan kalau ada masalah," tambah Tiny.

Tak berbeda jauh, di Mayapada Hospital Lebak Bulus, sisa makanan pasien juga dievaluasi. Ahli Gizi Rini Siti Haerani S.Gz mengatakan, "Kita akan melakukan pengumpulan data seberapa banyak sisa makanan yang dihabiskan pasien."

Menurutnya data tersebut menjadi salah satu indikator mutu atau sasaran mutu bagi departemen gizi yang hasilnya akan dipresentasikan dalam laporan bulanan kepada manajemen. "Dalam setiap bulan sisa makanan yang tidak dihabiskan kurang dari 20 persen," ujar Rini.

Sementara di RSIA Bunda, cita rasa makanan turut dievaluasi berkala. "Menjelang kepulangan pasien mereka akan diberi angket untuk menilai semua pelayanan kami termasuk soal makanan," jelas drg. Susi Ramadhani, MARS selaku Kepala RSIA Bunda.

Tidak menutup kemungkinan makanan yang sering tidak dihabiskan pasien akan diganti dalam siklus menu berikutnya.

Menurut drg. Susi rekomendasi menu dari pasien juga dipertimbangkan untuk variasi menu selanjutnya. Umumnya mereka merekomendasikan menu-menu selain menu Indonesia. "Karena mereka kan bosan menu Indonesia. Katanya sama seperti di rumah," ujar drg. Susi.

Penanggung Jawab Unit Gizi RSIA Bunda, Armina Immawati, S.Gz menambahkan makanan juga bisa menjadi indikator kesembuhan pasien.

"Makanan kan fungsinya membantu proses penyembuhan selain dari obat dan treatment lain. Membantu ada indikasinya ke depan buat apa. Paling gampang, untuk pasien Diabetes Melitus, gula darah terkontrol evaluasinya juga bisa dari makanan. Hipertensi (kalau bukan karena penyebab selain makanan) terkontrol juga evaluasinya dari makanan. Diare juga seperti itu," pungkas wanita dengan sapaan akrab Ima ini. (lus/odi)
FOKUS BERITA Makanan Rumah Sakit

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com