Kenali 4 Jenis Penyakit Intoleransi pada Makanan Ini

Lusiana Mustinda - detikFood Selasa, 24 Mei 2016 16:25 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Tubuh manusia tidak selalu bisa menerima semua jenis makanan. Beberapa orang alami intoleransi makanan. Jika konsumsi makanan tertentu tubuhnya akan alami penolakan.

Menurut Food Allergy Research & Education, sebuah organisasi non profit di Amerika Serikat mengatakan bahwa sebanyak 15 juta orang menderita intoleransi makanan dan 9 juta diantaranya adalah orang dewasa.

Alergi makanan dan intoleransi, keduanya merupakan bentuk sensitivitas makanan yang dapat menimbulkan sakit untuk orang-orang tertentu. Alergi makanan melibatkan suatu reaksi sistem kekebalan, sedangkan intoleransi adalah reaksi merugikan terhadap jenis makanan tertentu.

"Sensitif terhadap makanan cenderung disebabkan oleh perubahan lingkungan usus setelah adanya serangan racun dari makanan, penggunaan antibiotik, kekebalan tubuh menurun dan penggunaan obat-obatan," tutur Stephanie Karl, ahli gizi yang berbasis di JTS Medical Centre, Dubai.
Sedangkan menurut Katharina Elbracht, ahli gizi dari Fitness First Nutrition di Dubai mengatakan bahwa ada banyak faktor yang terlibat ketika alami intoleransi makanan.

Elbracht dan Karl menyoroti beberapa makanan yang sering menimbulkan intoleransi secara umum dan bagaimana didiagnosis dan diobati yang dilansir dalam The National (24/05).

1. Intoleransi laktosa
Jenis intoleransi ini disebabkan kekurangan enzim laktase pencernaan yang berarti bahwa usus tidak mampu menyerap laktosa (gula susu). Diperkirakan 75 persen dari populasi dunia memiliki kondisi ini sampai batas usia tertentu.

Gejalanya mulai dari mual, diare, kembung dan malabsorbsi gastrointestinal. Intoleransi lakrosa didiagnosis dengan tes nafas hidrogen setelah minum cairan yang mengandung jumlah laktosa tinggi. Untuk menghindarinya, orang dengan penyakit ini sebaiknya tidak konsumsi laktosa dari makanan apapun.

2. Penyakit seliaka dan non seliaka
Penyakit seliaka adalah gangguan kronis, autoimun pencernaan yang muncul melalui genetik dan menyebabkan seseorang merasakan reaksi sakit setelah konsumsi gluten, protein yang ditemukan dalam gandum, barley dan rye.

Orang yang alami penyakit ini dapat merasakan gejala perut kembung, diare hingga kelelahan. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis penyakit ini yaitu dengan biopsi usus halus dan tes darah.

Sedangkan sensivitas non seliaka menghasilkan gejala yang mirip dengan apa yang terjadi pada seliaka hanya saja tidak berpengaruh dengan genetik. Gejala umum yang sering terjadi dengan intoleransi makanan ini adalah kelelahan mental, adanya gas pada lambung dan juga kembung. Orang dengan penyakit ini sebaiknya menghindari makanan yang mengandung gluten.
3. Sensitivitas fruktosa
Ini merupakan kelainan yang disebabkan dari tidak bisa terserapnya fruktosa (gula) dalam tubuh secara optimal. Malabsorbsi fruktosa dikatakan mempengaruhi sekitar 30 persen orang sedangkan intoleransi fruktosa adalah merupakan kondisi genetik yang langka. Dimana seseorang tidak menghasilkan enzim untuk mogok fruktosa.

Gejalanya meliputi kembung, diare, kelelahan, kadar zat besi rendah dan ngidam gula. Sensitivitas fruktosa didiagnosis dengan tes nafas hidrogen setelah minum cairan dengan fruktosa tinggi dan diperlukan dengan mengikuti diet fruktosa bebas yang ketat.

4. Intoleransi histamin
Hal ini disebabkan karena kapasitas enzim histamin yang rendah di dalam tubuh. Histamin adalah bahan kimia yang terlibat dalam proses pencernaan, mengatur sistem kekebalan tubuh dan sistem saraf pusat. Ini adalah komponen dari asam lambung dan membantu memecah makanan di perut dan sebagai neurotransmitter membantu menyampaikan pesan dari tubuh ke otak.

Ketika ada infeksi, histamin sebabkan pembuluh darah membesar sehingga sel darah putih cepat menemukan dan menyerang masalah. Akhirnya, enzim bisa memecah histamin. Ketika respon histamin tidak terjadi, ini disebut sebagai intoleransi histamin. Reaksinya beragam dan sering meniru gejala alergi.

Cara yang paling dapat diandalkan adalah mendiagnosa melalui diet eliminasi yang dilakukan dengan cara menghindari makanan tinggi histamin seperti telur, susu, teh hijau dan keju. (lus/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com