5 Hal Ini Sebabkan Masyarakat Inggris Sering Keracunan Makanan

Ellia Avrizella Quenda - detikFood Selasa, 24 Mei 2016 13:58 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Bukan hanya orang yang alergi makanan tertentu harus berhati-hati dalam memilih makanan. Orang biasapun bisa keracunan makanan karena banyak hal.

BBC (23/05) melaporkan kasus kematian pada salah satu restoran India di North Yorkshire akibat memberikan kacang pada penderita alergi kacang menjadi sorotan serius. Hal ini juga disebabkan karena kelalaian sang pemilik restoran.Meskipun sebagian besar restoran terbilang aman, tetapi setiap tahunnya ditemukan pelanggaran hkum. Lima hal ini merupakan penyebab orang Inggris sering keracunan makanan.

1. Restoran tidak memperhatikan penderita alergi


Sejak Desember 2014, restoran-restoran takeaway telah diwajibkan oleh pemerintah Inggris untuk memberitahukan jika dalam bahan makanan mereka terdapat salah satu dari 14 alergen. Beberapa diantaranya, yaitu kacang, telur, susu, ikan dan mustard. Paul Wilson mengalami shock setelah mengonsumsi makanan dari Zaman. Tak lama ia meninggal yang kemudian diketahui Paul mengidap alergi kacang.

Sementara, pihak restoran secara jelas memberi label bebas kacang. David Pickering dari the Chartered Trading Standards Institute (CTSI) mengatakan, "Beberapa restoran punya panduan, beberapa akan memberikan informasi secara lisan. Jika tidak sebaiknya jangan bersantap di sana." Ada 4500 penderita alergi di rumah sakit UK dalam setahun, dan 10 orang meninggal dunia akibat alergi makanan per tahun.

Selain itu 1 dari 4 orang yang disurvei mengatakan bahwa mereka atau kerabat memiliki reaksi makan tertentu, 8 % anak-anak terkena alergi makanan atau intoleransi, dan 2 % sisanya orang dewasa.The Food Standards Agency (FSA) mengatakan kebanyakan orang masih belum mengetahui informasi mengenai bahaya alergi makanan. Chun-Han Chan, seorang FSA, ahli alergi menjelaskan para pengawas keamanan pangan telah menerjemahkan informasi mengenai saran alergi ke dalam beberapa bahasa yang berbeda sebagai salah satu upaya terbaik. "Kami ingin menghentikan kematian yang tidak perlu dan rawat inap dengan membantu perusahaan makanan memberikan informasi alergi secara akurat," kata Chun-Han Chan.

2. Menyajikan jenis daging yang salah
Pada tahun 2014, organisasi konsumen Which? menyediakan sampel 60 kari domba dan kebab domba di London dan Birmingham. Mereka menemukan 40 % mengandung jenis daging lain, dan beberapa lainnya tidak mengandung daging domba sama sekali.FSA kemudian melakukan studi yang lebih luas yang diterbitkan pada Februari 2015, dengan 84 dari 307 sampel mengandung daging yang tidak diketahui.

Hasilnya seperlima telah menggunakan daging sapi sebagai pengganti domba. Lainnya terkandung daging sapi, ayam, babi atau kalkun. Undang-undang Inggris mengharuskan makanan secara akurat dijelaskan kandungan aslinya. Jika tidk mereka dkenai denda hingga £ 5.000 atau 98 juta rupiah.The CTSI mengatakan langkah tersebut diambil akibat harga daging yang melambung tinggi.

"Kadang-kadang restoran tidak menyadari daging yang diperoleh dari pemasok mereka, " kata Mr. Pickering."Orang-orang ingin tahu apa yang mereka makan, sebagian besar karena preferensi pribadi mereka, tetapi yang lebih penting untuk alasan agama, seperti babi atau sapi sering digunakan sebagai pengganti."

3. Bahan makanan yang tidak diberi label


Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Food Science, beberapa makanan dijadikan sebagai pengganti. Misalnya daging, minyak, susu, madu dan rempah-rempah yang biasa tidak diberikan label khusus untuk memotong biaya. Dan lagi-lagi restoran takeaway menjadi sasaran utama munculnya produk-produk makanan tanpa pemberian label dari pemasok.

Saffron merupakan bahan utama dalam masakan India, Spanyol, Turki dan Persia. Bahan makanan ini berkualitas tinggi dan mahal. Saffron Spanyol dikenal berkualitas tinggi, kadang-kadang saffron diimpor dari negara lain sebelum dilabel ulang. FSA akan terus memantau adanya kekurangan bahan baku dan lonjakan permintaan konsumen melalui Emerging Risks Programme.

4. Pewarna buatan yang berlebihan
Banyak hidangan takeaway favorit dari berbagai negara yang mengandung pewarna buatan agar terlihat lebih menarik. Ini merupakan pelanggaran tindak pidana dan dapat dikenakan denda hingga £ 5.000 atau 98 juta rupiah. FSA sudah lama memberikan kode-kode pewarna buatan, seperti sunset yellow (E110), allura red (E129), carmoisine (E122), tartrazine (E102), quinoline yellow (E104) dan ponceau 4R (E124) karena dinilai kurang cocok digunakan pada beberapa anak.

'EU-wide mandatory warning' harus dicantumkan pada label makanan kemasan yang mengandung pewarna. Tetapi tidak ada ketentuan yang berlaku pada menu takeaway atau restoran.Selain menggunakan pewarna buatan, restoran dan takeaways juga menggunakan rempah-rempah alami. Seperti kunyit dan paprika untuk memberikan warna.Pada 2015, Dewan Walsall menemukan standar perdagangan tujuh dari delapan hidangan chicken tikka atau chicken tikka masala diuji mengandung sunset yellow (E110) atau ponceau 4R (E124).

5. Kebersihan yang buruk


Ditempelnya stiker hijau yang menandakan kondisi kebersihan dalam mengolah makanan sering terlihat di depan restoran atau bisnis takeaway di Inggris, tetapi hanya di Wales, stiker tersebut diberikan dan ditampilkan oleh hukum.Semua restoran akan diberikan rating 0 sampai 5 oleh petugas kesehatan lingkungan setempat.FSA memberikan peringkat untuk takeaway dan restoran di seluruh Inggris.

Buruknya kualitas dan kebersihan makanan dapat dilaporkan kepada otoritas lokal.Mr. Pickering mengatakan, "Kami memerlukan informasi dari orang-orang. Kita tidak mungkin menyelidiki setiap keluhan, tetapi akan membantu untuk memberikan gambaran umum jika tempat-tempat tertentu muncul lagi dan lagi.

"Sebelumnya pada bulan Mei, Program the BBC's 5 Live Investigates menemukan hampir 47.000 pemeriksaan yang dilakukan di Inggris pada tahun 2014 dibandingkan tahun 2003.Kini sudah banyak resto takeaway dengan sistem telepon atau online, kriteria diperkenalkan untuk memastikan konsumen selalu tahu peringkat kebersihan resto.

(adr/odi)

Redaksi: redaksi[at]detikfood.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com