Hati-hati! Terlalu Terobsesi pada Pola Makan Sehat Justru Bisa Kurang Gizi

Andi Annisa Dwi Rahmawati - detikFood
Senin, 16 Mei 2016 13:02 WIB
Foto: iStock
Jakarta - Menjalani pola makan sehat tentu dianjurkan. Namun waspadai obsesi berlebihan karena justru bisa mengakibatkan malnutrisi.

Istilah Orthorexia nervosa pertama kali diperkenalkan Dr Steven Bratman tahun 1997. Merujuk pada pemahaman mendalam akan pola makan sehat hingga sampai pada titik keharusan yang merusak. Istilah ini digambarkan sebagai penyakit yang menyamar dalam bayang-bayang kebaikan.

Orthorexia nervosa berbeda dari gangguan makan seperti anoreksia dan bulimia dimana keduanya dilakukan seseorang karena ingin kurus. Sebaliknya, Orthorexia nervosa justru diawali dengan motivasi seseorang untuk menjadi lebih sehat dengan makan makanan alami dan bersih.

Jordan Younger, salah satu penderita Orthorexia nervosa justru dikenal dengan merek Blonde Vegan yang sukses. Ia menjalani pola makan 'clean eating' dan menyarankan detoks dengan minum jus selama 10 hari.


Meski terlihat sehat, Younger rupanya hadapi banyak masalah. Ia kerap kali merasa lemas dan menstruasinya berhenti. Ia juga mengaku khawatir dengan rutinitasnya, panik ketika tidak menemukan makanan yang cocok dan saat mengetahui ada hal-hal yang tidak sesuai dengan aturan dietnya. Secara bertahap Younger menyadari ada sesuatu yang tidak sehat dari diet ketatnya selama ini.

"Saya telah mengalami banyak ketakutan seputar makanan. Saya memiliki pilihan makanan yang terbatas. Saya bahkan mencandai kondisi ini dengan menyebut telur sebagai makanan yang menakutkan karena selama ini saya menghindarinya," ujar Younger pada Independent (16/05).

Untuk mengatasinya, Younger memulai proses panjang terapi dan beralih ke pola makan seimbang. Ia mulai mengonsumsi kembali telur serta ikan dan ayam organik. Merek Blonde Vegan buatannya juga diganti menjadi Balanced Blonde. Tindakannya ini tak serta merta mudah, Younger menghadapi ancaman dan kecaman dari beberapa penggemarnya.


Salah satu masalah dari Orthorexia nervosa adalah dalam beberapa hal kondisi ini tidak dianggap masalah secara sosial. Seperti mudahnya seseorang mengakui dirinya hanya makan speotong buah dalam sehari atau tidak makan karbohidrat apapun.

Pengakuan sosial juga tercermin dari 26 juta unggahan foto bertagar #eatclean di Instagram. Ada pula aplikasi yang mengatur asupan makanan tanpa menentukan batas kalori minimal.

Orthorexia nervosa sangat mudah diabaikan sebagai 'first-world problem.' Kondisi ini juga belum diklasifikasikan oleh industri standar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Sementara diet berfokus pada makanan alami memang baik untuk kesehatan, obsesi yang berlebih terhadapnya justru bisa merusak kesehatan. Beberapa penderita mulai menghindari kelompok makanan tertentu namun akhirnya berujung pada diet amat ketat yang menyebabkan malnutrisi.


Pengalaman buruk seputar Orthorexia nervosa juga pernah dialami Carrie Armstrong, presenter TV dari Newcastel. Saat divonis penyakit tertentu yang menyebabkan dirinya tak bisa jalan, ia memutuskan mengubah pola makan.

"Saya tidak makan daging lalu produk susu. Saya menjadi vegan tetapi tidak mendapat hasil yang diharapkan. Lalu saya beralih pada pola makan makanan mentah dan buah. Pada akhirnya saya hanya makan melon organik. Berat badan saya berkurang drastis, gigi saya tanggal, dan rambut saka rontok," ujar Armstrong.

Baginya Orthorexia nervosa membuatnya dikontrol oleh makanan. Ia mengatakan, "Bayangkan kondisi takut akan makanan. Itu yang saya alami selama 8 tahun."

Mary George, dari lembaga amal gangguan makan bernama Beat berujar, "Orthorexia nervosa sebenarnya tidak dikategorikan gangguan makan sehingga kita tidak bisa mengatakan kasusnya meningkat. Tetapi tampaknya kini kita mendengar lebih banyak tentang ini. Tidak diragukan lagi Orthorexia nervosa disebabkan oleh fokus berlebihan terhadap pola makan dan gaya hidup sehat."

Dr Bratman, pencipta istilah sekaligus penderita pertama Orthorexia nervosa mengatakan beberapa diet ketat bisa sehat dan bahkan diperlukan untuk alasan medis, etika, atau agama. Namun hal ini jadi berbahaya ketika berubah menjadi obesesi.

"Akhirnya seseorang mencapai titik dimana sebagian besar hidupnya tercurahkan untuk perencanaan, pembelian, persiapan, dan makan makanan yang dianutnya," ujar Bratman.

Sementara itu, Armstrong menggarisbawahi pengobatan Orthorexia nervosa tidak sama dengan gangguan alkohlisme yang juga pernah ia derita.

"Ini (Orthorexia nervosa) tidak ada obatnya karena tidak dikenali. Dokter akan merujuk Anda ke ahli gizi dan ini adalah kesalahan. Seharusnya pengobatan Orthorexia nervosa adalah tentang penekanan terhadap makanan. Saya harus menemukan sesuatu untuk mengisi waktu yang mencintai saya kembali. Makanan tidak melakukan hal itu," pungkasnya.

(adr/odi)