Penelitian Sebut Nugget Kemasan Tak Gunakan 100% Daging Ayam

Penelitian Sebut Nugget Kemasan Tak Gunakan 100% Daging Ayam

Lucia Essy Heriana - detikFood
Rabu, 03 Feb 2016 07:30 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Nugget merupakan salah satu makanan kemasan yang disukai anak-anak. Produsen nugget umumnya menyatakan produknya terbuat dari 100% daging ayam. Padahal tidak demikian.

Penelitian terbaru menyebutkan anak-anak tumbuh dengan rasa makanan rekayasa genetik. Studi yang dilakukan di Inggris oleh University of Nottingham menemukan bahwa anak-anak telah terbiasa mengonsumsi makanan dengan rasa dari rekayasa genetik. Hal ini akan mempengaruhi kehidupannya kelak.

Dilansir thesun.uk (27/1) para ahli mengkhawatirkan makanan ini dapat membuat anak-anak kecanduan terhadap makanan berlemak dan makanan yang mengandung gula dikemudian hari.



Mereka juga menemukan 64% ibu terkejut ketika mengetahui makanan berbahan dasar dari daging asli, alami, dan ditujukan untuk anak-anak, ternyata hanya berisi sederetan daftar bahan makanan saja.

Makanan seperti chicken nugget biasanya mengandung 14 bahan dan hanya 51% berbahan dasar dada ayam, Meskipun produk tersebut berlabel menggunakan 100% dada ayam.

Survei yang dilakukan Organix, produsen makanan bayi organik, menemukan 23 atau 66% anak-anak lebih memilih chicken nugget daripada dada ayam, 8 dari 10 anak memilih saus tomat dibanding dengan tomat segar, dan 8 dari 10 anak menyukai fish fingers dibanding dengan daging ikan segar.



Menurut studi yang dilakukan oleh Greg Tucker, Taste Psychologist, dan Professor Andy Taylor dari University of Nottingham Food Science, makanan rekayasa genetik saat ini mengacaukan kemampuan anak untuk mengenali dan menikmati rasa makanan yang sebenarnya.

Makanan kemasan membuat selera makan anak-anak berubah. Karena mereka mencari kepuasan rasa yang cepat dan mudah. Nugget dan makanan kemasan lainnya membuat si kecil kehilangan kemampuan dan keinginan untuk menikmati makanan alami.

β€œSatu hal yang tidak diharapkan, makanan yang disesatkan formulanya oleh industri makanan mengubah cara makan anak-anak,” jelas Greg Tucker.



(odi/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads