Detoks Jus Alami dan Aman

Tubuh Lebih Sehat dan Bugar, Ini Cerita Para Pelaku Detoks

Tania Natalin Simanjuntak - detikFood Senin, 11 Jan 2016 11:11 WIB
Foto: Ilustrasi Thinkstock
Jakarta - Detoks dengan jus banyak dilakukan orang.​ Lalu, apa sebenarnya yang dirasakan oleh tubuh para pelaku detoks? Berikut ini adalah beberapa ceritanya.

Agniya Khoiri (22), pernah ikut jus detoks sekitar 1 tahun yang lalu. Tujuan Agniya yang juga seorang mahasiswi di perguruan tinggi negeri ini adalah untuk menurunkan berat badan. Tak lebih dari 3 hari ia menjalankan diet jus detoks ini.

"Baik buah dan sayur saya campur untuk bikin jusnya. Selain jus, saya juga makan buah potong," ujarnya (10/1) saat dihubungi detikFood.



Buah dan sayur yang ia p​ilih adalah​ nanas, bayam, lemon, dan apel. Ia juga membuat olahan jus tersebut sendiri dari buah asli, tidak memakai produk kemasan.

"Awalnya, rasa jus terasa enak di mulut. Tapi lama-kelamaan, mulut saya kok rasanya asam, apalagi campuran apel dalam jus ini begitu kental, saya jadi merasa eneg. Karenanya, saya jadi tutup hidung kalau mau minum jus, supaya cepat tertelan," jelas perempuan yang mengaku lemas saat menjalani diet detoks ini.

"Akhirnya saya nyerah setelah 3 hari ikut jus detoks. Selain badan terasa lemas, saya juga jadi sering buang air kecil, otomatis jadi tak leluasa menjalankan aktivitas sehari -hari," akunya.



Berbeda dengan Agniya, Eva Ernalia (31), yang seorang instruktur yoga mengaku memgikuti program detoks karena ingin membersihkan toksin dari dalam tubuh. Ia ikut program detoks ini bulan Oktober 2015 yang lalu.

"Sebelum menjalankan detoks, saya sudah menjalankan program Food Combining, dan menurut saya Food Combining bisa dikategorikan sebagai detoks ringan. Selama 3 hari, saya hanya konsumsi jus dan buah potong," ujar perempuan yang juga seorang ibu ini.

Mangga, semangka, melon, anggur, jeruk, dan dragon fruit adalah buah yang ia buatkan jus, dan ia juga mengonsumsi buah lain seperti salak, rambutan dan jambu air. "Semua buah saya makan, kecuali buah yang mengandung alkohol seperti nangka dan durian. Selama 3 hari, program detoks saya berjalan lancar," akunya saat dihubungi detikFood (10/1).



Menurut praktisi yoga ini, program detoks sangat terasa manfaatnya. Tubuhnya terasa lebih ringan dan segar, apalagi ia masih bisa menjalankan aktivitasnya sehari-hari sebagai instruktur yoga dan ibu rumah tangga.

Ia juga menyatakan bahwa setelah menjalani program detoks, dirinya jadi tidak mudah lelah. Untuk program detoks ini, Eva juga tidak mematok seberapa banyak jus yang ia minum. Tapi, setiap hari setidaknya ia mengonsumsi jus 2 kali. Sisanya adalah buah potong.

Enaknya lagi, ia juga membuat sendiri jus yang ia minum karena cenderung lebih segar dan sehat. Walau banyak mengonsumsi jus dan buah potong yang tentunya mengandung air, menurutnya ia tak terlalu sering buang air kecil. "Buang air kecil pasti, karena yang saya konsumsi semuanya mengandung air. Tapi biasa-biasa saja, tidak terlalu sering juga," tulisnya.

Setelah ikut program detoks, ia kembali menjalankan pola makan Food Combining. Awal tahun ini, ia menjalankan lagi program detoks dan sama seperti sebelumnya, ia merasakan kesegaran lagi.

Jika Agniya bertujuan ingin menurunkan berat badan dan Eva ingin membuang toksin agar tubuh lebih sehat, Arie Primadewi Sukamto ikut program detoks karena ia sudah mengalami mastektomi, kemoterapi, dan radiasi untuk kanker payudara yang diidapnya.



"Saya pikir, banyak sekali racun dan bahan kimia di dalam tubuh saya, maka saya ingin menjalani program detoks. Dengan bimbingan Erikar Lebang yang ahli dalam Food Combining, saya pun menjalaninya di bulan September 2015," aku perempuan berumur 42 tahun ini.

Menurutnya, ia juga tidak pilih-pilih buah untuk konsumsi. Tapi kalau bisa, buah yang ia konsumsi adalah buah yang dekat waktu masa panen. Sistem detoks selama 3 hari yang Arie jalankan juga disiplin, setiap 2 jam sekali ia menenggak jus buah atau buah potong diselingi air putih minimal 8 gelas.

"Detoks saya pun berhasil dan badan saya terasa lebih enteng dan jauh lebih segar setelah detoks. Sebelum dan setelah menjalankan detoks, saya sudah melakukan pola makan Food Combining dan tubuh saya boleh dikatakan sudah terbiasa dengan pola makan sehat," ujar wanita berkerudung ini.

"Satu hal lagi keuntungan ikut detoks dan pola makan sehat ini adalah bisa sebagai alarm tubuh yang alami. Jadi, kalau makan sesuatu dan ada yang salah di dalamnya, tubuh langsung bereaksi. Misalnya, ketika makanan mengandung MSG tenggorokan langs​ung sakit dan ketika ada makanan mengandung gluten, tangan atau perut langsung gatal, tubuh jadi lebih peka dan jarang sakit," jelasnya.



(tan/odi)