Detoks Jus Alami dan Aman

Amankah Melakukan Detoks dengan Minum Teh Saja?

Tania Natalin Simanjuntak - detikFood Rabu, 06 Jan 2016 17:35 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta -

Detoks yang membersihkan racun​ dalam tubuh tak hanya berbentuk jus​ buah​. Teatox, atau detoks dengan teh juga sering di​lakukan ​banyak orang. Lalu apa bedanya dengan jus detoks?

Teh jadi bahan detoks terkenal karena banyak yang meyakini kandungan antioksidan di dalamnya. Namun, ada baiknya ber​hati-hati dalam memilih teatox. “Teatox termasuk makanan kemasan atau ​makanan yang diproses​. Jadi harus dilakukan costumer research dulu, apakah sifatnya diuretik atau laksatif,” jelas Leona Victoria Djajadi, seorang ahli gizi pada detikFood (5/1).

Diuretik adalah efek yang menyebabkan kecepatan pembentukan urin. Dalam hal ini, teatox membuat Anda sering ​buang air kecil. Kebalikannya, laksatif bersifat pencahar atau membuat kotoran di dalam tubuh bergerak ​lebih cepat yang mendorong BAB lebih sering​.



Walau bersifat detoks, teatox yang benar seharusnya tidak memiliki kedua sifat tersebut. Hal ini karena terlalu banyak diuretik dan laksatif dalam jangka panjang bisa membuat lazy gut syndrome atau susah BAB atau buang air kecil. “Akan jauh lebih baik jika detoks diambil dari buah, sayur, dan sumber protein alami, bukan makanan prosesan,” menurut Victoria.

Hampir sependapat dengan Victoria, Jansen Ongko, Msc, RD, juga mengemukakan teh memang baik untuk tubuh, namun harus lebih cermat dalam mengonsumsinya. “Teh aman dikonsumsi selama tidak berlebihan. Memiliki banyak khasiat bagi kesehatan, salah satunya antioksidan, aman dikonsumsi selama tidak berlebihan, dan mengandung polifenol yang tinggi yaitu EGCG. Polifenol inilah fungsi antioksidan tersebut. Kekuatan antioksidan dalam teh (khususnya teh hijau) lebih kuat dibandingkan vitamin C. Antioksidan polifenol pada teh tidak hanya membantu menyehatkan tubuh, kulit, dan rambut, tetapi juga dapat membantu menghambat pertumbuhan sel kanker,”

“Walau populer, belum ada bukti ilmiah ​teatox ​sebagai teh detoks yang aman untuk konsumsi umum dan dapat menurunkan berat badan tanpa efek samping,” tulis Jansen Ongko yang seorang Registered Dietitian ini mengingatkan.

Menurutnya, teh detoks bersifat diuretik dan menstimulasi kandung kemih. “Inilah yang menyebabkan produksi urin berlebih dan Anda bisa kehilangan cairan berlebih. Anda pun merasa tubuh menjadi ringan. Padahal, itu hanya efek terbuangnya cairan dalam tubuh saja. Seharusnya, tubuh tetap memerlukan asupan makanan dan minuman sehat. Imbangi juga dengan olahraga dan mengonsumsi makanan sehat, jadi berat badan bisa turun secara alami.”

Adakah yang bisa memastikan bahwa konsumsi teatox punya dampak negatif? Ternyata, masih menurut Jansen Ongko, National Institutes of Health (NIH) melakukan teatox selama dua minggu bisa menyebabkan fungsi usus tidak normal atau perubahan kadar elektrolit yang menyebabkan masalah jantung, kelemahan otot, kerusakan hati, dan efek berbahaya lainnya.



Selain itu, teh detoks identik dengan teh herbal yang berbahan dasar daun teh dan herbal. Beberapa bahan herbal tersebut mempunyai efek samping. Salah satunya mengekang nafsu makan sehingga dapat menurunkan berat badan. Guarana yang juga sering ditambahkan pada teh detoks memiliki efek samping membuat gugup, gelisah, iritasi lambung, mual, muntah, sakit kepala, agitasi, dering di telinga, dan nafas menjadi sesak!

Walau begitu, menurut Rita Ramayulis, ahli nutrisi yang juga seorang pengajar di bidang gizi, detoks dengan t​eh ​tak ada bedanya dengan detoks dengan air putih. “Bedanya adalah t​eh​ mengandung antioksidan, sedangkan air putih tidak. Walau nutrisi di dalamnya tak seimbang, boleh saja detoks dengan t​eh​, tapi tak boleh lebih dari 2 hari.” ungkapnya saat dihubungi detikFood (5/1).




(tan/odi)