Seperti dikutip dari Red Orbit (14/12), penulis studi RD Abbott bersama Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Shuga di Otsu, Jepang melakukan penelitian untuk melihat hubungan konsumsi susu dengan gejala parkinson di otak.
Abbott dan timnya mengikuti perjalanan hidup 449 pria keturunan Jepang-Amerika yang berpartisipasi dalam Honolulu-Asia Aging Study. Mereka berusia rata-rata 54 tahun, dan telah diikuti 30 tahun atau lebih hingga akhirnya tutup usia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim peneliti juga mengukur jumlah pestisida bernama heptachlor epoxide dalam otak jenazah. Pestisida ini ditemukan dalam jumlah tinggi pada susu yang beredar di Hawaii awal tahun 1980.
Pada saat itu, heptachlor epoxide turut digunakan untuk melindungi nanas dari serangga. Karena berbahaya, penggunaan pestisida ini akhirnya dilarang di Amerika. Namun faktanya heptachlor epoxide masih terkandung di beberapa sumber air mineral di sana.
Peneliti menemukan pria non perokok yang minum 2 gelas susu per hari memiliki 40% sel otak di bagian substantia nigra lebih sedikit dibanding yang tidak minum susu. Menariknya, hal ini tidak terjadi pada pria perokok.
Sisa pestisida heptachlor epoxide juga ditemukan hingga 90% pada pria yang minum susu harian dalam jumlah terbanyak, sedangkan pada pria yang tidak minum susu sama sekali ditemukan 63% sisa pestisida.
Meski peneliti tidak dapat memastikan apakah benar susu yang diminum mengandung pestisida, mereka meyakini adanya hubungan antar keduanya. Namun penelitian ini tidak menunjukkan asupan pestisida atau susu secara langsung menyebabkan parkinson.
“Ada beberapa penjelasan yang mungkin dari kejadian ini. Seperti tentang pengukuran konsumsi susu yang hanya dilakukan di awal penelitian,” ujar Honglei Chen mengenai penelitian yang dipublikasikan di jurnal Neurology ini.
(adr/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN