Meskipun Bernutrisi, Olahan Kedelai Justru Dilarang Untuk Penderita Kanker Payudara

Lusiana Mustinda - detikFood Senin, 28 Sep 2015 14:08 WIB
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
FOKUS BERITA Olahan Tahu
Jakarta - Para ahli tidak menyarankan penderita kanker konsumsi olahan kedelai. Padahal makanan ini tinggi serat, protein dan rendah lemak.

Di Indonesia, prevalensi penyakit kanker cukup tinggi. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi tumor atau kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 330.000 orang.

Menurut ahli gizi, Jansen Ongko, Msc, RD, ada beberapa faktor yang menjadi pemicu utama dari penyakit ini. Salah satunya adalah kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar mengonsumsi gorengan, mulai dari kerupuk, pisang goreng, tempe goreng hingga junk food.




Penelitian menunjukkan bahwa terdapat senyawa akrilamida, zat karsinogen pemicu kanker yang terbentuk pada makanan yang dipanaskan secara berlebihan seperti pada gorengan. "Senyawa akrilamida ini dapat menimbulkan tumor, kanker, merusak DNA, syaraf, mengganggu tingkat kesuburan dan juga akibatkan keguguran," tambah Jansen.

Tipe kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru dan kanker kolekteral.

Beberapa pakar ataupun dokter menyarankan agar penderita kanker payudara untuk menghindari makanan olahan kedelai. Padahal, kedelai mengandung protein, sedikit lemak dan juga kolesterol. Apa alasannya?

"Tahu dan tempe yang berbahan dasar kedelai dikenal sebagai makanan kaya gizi. Konsumsi tahu dan tempe tidak dianjurkan bagi penderita kanker payudara tipe estrogen reseptor (ER) karena terindikasi dapat memicu pertumbuhan sel kanker semakin cepat," tutur pria berkacamata ini.




Produk olahan kedelai biasanya dijadikan sebagai tofu, susu kedelai, miso dan tempe. Ada banyak phytochemical yang berhubungan dengan kesehatan. Inhibitor protein kinase membantu menjaga pertumbuhan sel. Pitosterol dan saponin membantu mengatur kolesterol dan asam fenolik dan phtates merupakan antioksidan.

“Selain itu, tahu dan tempe kaya akan isoflavon, salah satu jenis phytoestrogen yaitu senyawa kimia yang merupakan hormon tumbuhan yang memiliki struktur menyerupai hormon estrogen pada tubuh manusia. Sehingga dapat memicu meningkatnya jumlah hormon estrogen dalam tubuh yang justru dapat merangsang penyebaran kanker lebih cepat,” jelas Jansen pada Detikfood (14/09).

(lus/odi)
FOKUS BERITA Olahan Tahu
Load Komentar ...