Seperti dilansir dari The Sydney Morning Herald (12/08/15), Dr Russell de Souza selaku pemimpin penelitian di Universitas McMaster, Kanada mengungkapkan βKonsumsi lemak trans yang ditemukan dalam makanan olahan seperti margarin dapat meningkatkan risiko kematian dini akibat penyakit jantung.β
Sementara itu, peneliti tidak menemukan adanya hubungan antara konsumsi makanan tinggi lemak jenuh seperti mentega, daging, dan krim dengan risiko kematian dini. βNamun bukan berarti kami merekomendasikan konsumsi lemak jenuh dalam jumlah banyak karena tidak ada bukti bahwa ini baik untuk kesehatan,β ujar Russell mengenai penelitian yang dimuat dalam British Medical Journal ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan lemak trans terkandung dalam makanan olahan yang diproduksi industri seperti margarin, aneka makanan ringan, dan banyak makanan kemasan.
Pedoman gizi Amerika Serikat membatasi konsumsi lemak jenuh tak boleh lebih dari 10% dari total asupan harian dan lemak trans tak boleh lebih dari 1% agar seseorang terhindari dari penyakit jantung dan stroke.
Namun hal ini ditepis oleh hasil penelitian yang melihat 50 penelitian sebelumnya dengan subjek penelitian lebih dari 1 juta orang. Mereka menemukan tidak ada hubungan antara konsumsi lemak jenuh dengan masalah kesehatan seperti penyakit jantung, jantung koroner, dan diabetes tipe 2.
Konsumsi lemak trans justru berhubungan dengan peningkatan risiko kematian hingga 34% dalam waktu 8.5 tahun. Sebanyak 28% diantaranya berisiko tinggi meninggal akibat penyakit jantung koroner dan 21% akibat penyakit jantung.
Terlepas dari hasil penelitian ini, ahli kesehatan di Inggris memperingatkan agar tetap membatasi konsumsi makanan mengandung lemak jenuh. βAkan sangat bodoh bila seseorang mengartikan hasil penelitian ini dengan konsumsi daging berlemak ataupun mentega sepuasnya,β ujar Professor Tom Sanders di King's College, London.
(msa/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN