Penelitian yang dipublikasikan dalam Postgraduate Medical Journal (PMJ) menyebutkan bahwa diet Mediterania lebih baik dibanding diet rendah lemak untuk menurunkan berat badan. Peneliti berpendapat fokus pada asupan makanan adalah pendekatan terbaik melawan obesitas.
Mereka juga mengkritik lembaga terkait penurunan berat badan yang menerapkan sistem pembatasan kalori, daripada memberi asupan gizi baik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam artikel penelitian dikatakan penerapan diet Mediterania setelah serangan jantung, tiga kali lebih efektif dalam mengurangi risiko kematian.
Penulis utama penelitian, ahli jantung Dr Aseem Malhotra menyebutkan bukti ilmiah untuk diet Mediterania sangat luar biasa.
"Yang lebih penting adalah kami memberitahu orang-orang untuk mengonsumsi makanan bergizi," tutur Aseem seperti dilansir dari BBC News (17/11/2014).
Peneliti berharap National Health Service (NHS) Inggris dapat memberi contoh pada masyarakat dengan menyediakan makanan sehat di rumah sakit. Selain itu juga memastikan dokter dan perawat mengetahui bukti dari diet tersebut.
Adapun menurut Dr Alison Tedstone, chief nutritionist Public Health England, tidak ada satu solusi yang dapat menyelesaikan masalah obesitas.
Ia menyebut pemerintah menyarankan konsumsi roti, nasi, kentang, pasta, banyak buah dan sayuran, susu daging dan lainnya. Namun makanan tinggi garam, lemak dan gula harus dimakan dalam jumlah sedikit. Bagi yang mengalami kegemukan, gaya hidup sehat harus lebih diterapkan.
Diet Mediterania terinspirasi dari masakan tradisional negara-negara seperti Yunani, Spanyol dan Italia. Diet ini telah lama dikaitkan dengan kesehatan tubuh dan jantung.
Biasanya diet meliputi konsumsi banyak buah, sayuran, sereal gandum, kacang-kacangan, unggas, ikan dan minyak zaitun. Sedangkan daging merah, mentega dan lemak hewan lebih dikurangi.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN