Banyak Minum Susu Justru Meningkatkan Risiko Kematian?

Banyak Minum Susu Justru Meningkatkan Risiko Kematian?

- detikFood
Rabu, 05 Nov 2014 13:06 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Minum susu dianjurkan untuk menjaga kesehatan tulang. Khususnya mencegah patah tulang karena osteoporosis. Penelitian terbaru justru menyebutkan efeknya justru meningkatkan risiko kematian.

Tingginya kadar laktosa dan galaktosa dalam susu dapat meningkatkan tekanan oksidatif dan peradangan kronis terhadap hewan. Hewan ini dijadikan sampel penelitian.

Namun penelitian tersebut hanya sebatas menunjukkan keterkaitan dan belum bisa memastikan penyebab dan efeknya. Hasil tersebut harus bisa ditafsirkan secara hati-hati dan butuh penelitian lebih lanjut. Sebelum dijadikan rekomendasi konsumsi susu yang berkaitan untuk program diet.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama ada anggapan, diet disertai konsumsi susu akan mengurangi kemungkinan patah tulang karena osteoporosis. Namun, menurut penelitian yang dalam British Medical Journal, penelitian sebelumnya justru menunjukkan hasil yang bertentangan.

Tim peneliti dari Swedia yang dipimpin oleh Professor Karl MichaΓ«lsson menguji asupan susu yang tinggi bisa meningkatkan tekanan oksidatif yang berisiko kematian dan patah tulang.

Dua kelompok besar yang diteliti terdiri dari 61,433 (rentang usia 39-74) dan 45,339 pria (usia 45-79) menjadi sampel dalam penelitian. Mereka mengisi kuisioner tentang makanan yang dikonsumsi termasuk susu, yogurt, dan keju.Informasi yang ditanyakan seputar gaya hidup, berat badan, tinggi badan, bahkan status perkawinan.

Kelompok wanita yang diteliti dalam kurun waktu 20 tahun, yang meninggal sebanyak 15,541 jiwa dan sebanyak 17,252 mengalami patah tulang dan 4,259 mengalami patah tulang pinggul.

Pada wanita tidak ada pengurangan risiko patah tulang dengan konsumsi susu dalam jumlah banyak. Selain itu, wanita yang minum susu lebih dari 3 gelas per hari (rata-rata 680 ml) memiliki tingkat risiko kematian lebih tinggi dibanding dengan yang minum susu kurang dari satu gelas per hari (rata-rata 60 ml)

Kelompok pria yang diteliti dalam kurun waktu 11 tahun, 10,112 orang meninggal dan 5,066 mengalami patah tulang dengan 1,166 kasus. Pria dengan konsumsi susu yang tinggi memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.

Penelitian selanjutnya menunjukkan keterkaitan antara asupan susu dengan tekanan oksidatif dan peradangan. Fakta menarik lainnya justru ditemukan pada asupan olahan susu fermentasi yang rendah laktosa seperti yogurt dan keju justru dapat mengurangi angka kematian, khususnya terhadap wanita.

Peneliti menyimpulkan konsumsi susu yang tinggi pada wanita dan pria tidak memiliki kaitan dengan menurunnya risiko patah tulang. Namun justru memiliki kaitan dengan meningkatnya angka kematian.

Oleh sebab itu, ada hubungannya antara laktosa dan galaktosa yang terkandung dalam susu dengan risiko tersebut, meskipun penyebabnya masih harus diselidiki.

β€œHasil penelitian kami mungkin mempertanyakan kebenaran dari rekomendasi jika mengonsumsi susu dalam jumlah banyak akan mencegah kerapuhan tulang,” demikian tulis peneliti

(dni/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads