Konsumsi 5 Porsi Buah dan Sayuran Setiap Hari Bisa Atasi Depresi

- detikFood Kamis, 25 Sep 2014 11:25 WIB
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Konsumsi buah dan sayuran tidak hanya baik untuk kesehatan. Karenanya banyak ahli nutrisi menyarankan konsumsi buah dan sayur setiap hari. Menurut studi terbaru, konsumsi keduanya juga dapat mengatasi depresi.

Lima porsi buah dan sayuran setiap hari dikatakan dapat meningkatkan kesehatan mental seseorang. Penelitian dari fakultas kesehatan University of Warwick Inggris menemukan kesehatan mental, baik rendah atau tinggi, berhubungan sangat dekat dengan seberapa banyak produk makanan segar yang dikonsumsi.

Kesehatan mental sangat terkait dengan penyakit mental dan masalah kesehatan mental seperti depresi atau kecemasan. Menurut peneliti, kesehatan mental didefinisikan sebagai keadaan dimana orang merasa baik. Optimisme, kebahagiaan, percaya diri, daya tahan dan hubungan baik dengan orang lain menjadi bagian dari keadaan tersebut.

Dari penelitian diketahui 33,5 persen orang dengan kesehatan mental tinggi menyantap lima atau lebih porsi buah dan sayuran setiap hari. Kesehatan mental tinggi dialami pula oleh 31,4 persen orang yang makan buah dan sayuran sebanyak tiga sampai empat porsi per hari. Begitu juga pada 28,4 persen orang dengan konsumsi satu sampai dua porsi.

Penelitian yang menggunakan data dari Health Survey for England ini menemukan efek kesehatan mental dari buah dan sayuran terjadi baik pada pria maupun wanita.

Dr Saveroi Stranges, pemimpin penelitian, mengatakan temuan menunjukkan bahwa asupan buah dan sayuran memperkecil kesempatan mendapat kesehatan mental rendah.

"Temuan baru menunjukkan bahwa asupan buah dan sayuran bisa memainkan peran potensial sebagai penggerak, tidak hanya pada fisik, tapi juga kesehatan mental dari populasi umum," tutur Saveroi seperti dilansir dari Warwick (23/09/2014).

Penulis dalam penelitian, Sarah Stewart Brown, menambahkan konsumsi keduanya mampu meningkatkan kesehatan mental sekaligus mencegah penyakit seperti jantung atau kanker.

Penelitian ini sendiri dipublikasikan dalam jurnal kesehatan BMJ Open.

(fit/odi)