Studi dalam di Public Health Nutrition menyimpulkan bersantap di restoran cepat saji dan restoran full- service memicu peningkatan signifikan dalam asupan energi, gula, lemak jenuh, dan garam.
Tim peneliti menganalisi data dari 12.000 partisipan umur 20- 64 tahun yang diminta mengingat kebiasaan makan selama dua hari. Data ini dikumpulkan oleh National Health and Nutrition Examination Survey.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sisanya partisipan menyantap hidangan di rumah. Partisipan yang mengonsumsi restoran cepat saji atau restoran full-service mengonsumsi 200 kalori ekstra per hari dibanding orang yang menyantap makanan di rumah.
Kalori ekstra tersebut adalah 10 persen dari total kalori yang direkomendasikan dikonsumsi per hari. Masyarakat kulit hitam yang bersantap di restoran mengonsumsi kalori lebih banyak dibanding kaukasia dan hispanik.
Menyantap hidangan di restoran tidak terlalu mempengaruhi masyarakat dewasa dengan pendapatan tinggi, peneliti menyatakan hal ini berhubungan partisipan tersebut lebih memilih hidangan lebih sehat dan mahal di restoran.
Beberapa bukti menunjukkan partisipan yang bersantap di restoran mengonsumsi 20 persen sodium diatas asupan rekomendasi dibandingkan 13 persen dari restoran cepat saji. “Pada hari saat orang mengonsumsi makanan cepat saji dan makanan restoran full-service, mereka tidak menurunkan asupan kalori di beberapa bagian pola makan mereka,” tutur Binh Nguyen, selaku co-studi kepada CNN (11/08/2014).
Binh mempunyai beberapa rekomendasi untuk orang- orang yang ingin makan di restoran dan sehat. Disarankan untuk mengonsumsi setengah porsi, taruh saus dan dressing dipinggir hidangan, dan minum air putih dibandingkan soda untuk memangkas asupan kalori.
Tim peneliti menegaskan untuk studi ini data dilaporkan sendiri oleh partisipan dan mereka mungkin tidak bisa menerka dengan tepat asupan kalori per hari. Tapi yang paling penting adalah menyantap hidangan di restoran tidak harus menjadi alternatif untuk menyantap makanan sehat
(lus/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN