Timun Suri Selain Diberi Sirop, Lebih Bernutrisi Dikonsumsi Segar

- detikFood Minggu, 13 Jul 2014 13:24 WIB
Foto: Detikfinance
Jakarta - Mentimun suri atau timun betik (Curcumis lativus) mudah ditemui di bulan puasa, tapi sulit dicari di bulan lain. Kalau stoknya melimpah tapi bosan hanya ditambah sirop, timun suri bisa diolah menjadi sajian lain.

Timun suri berkulit hijau atau kuning dan berbentuk lonjong dengan ukuran sedang. Daging buahnya berwarna putih dengan tekstur pulen dan memiliki biji-biji di bagian tengahnya.

Dilihat dari bentuk daun, buah, dan bijinya, timun suri berada di antara buah mentimun dan melon. Namun, timun suri lebih dekat kekerabatannya dengan melon karena buahnya beraroma harum saat masak, sedangkan mentimun tidak. Uji kromosom Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada juga menegaskan hal ini. Jadi, penamaan timun suri sebenarnya salah kaprah.

Di Jakarta, timun suri melimpah saat bulan Ramadan. Banyak orang beralih pekerjaan sementara menjadi petani dan penjual timun suri selama bulan puasa. Hal ini mengesankan bahwa timun suri adalah buah musiman.

Padahal, di daerah-daerah lain, timun suri tersedia sepanjang tahun. Hal ini dikarenakan permintaan timun suri di Jakarta melonjak saat Ramadan, sedangkan di bulan lain sepi. Makanya, para petani baru menanam timun suri menjelang bulan puasa.

Timun suri diyakini mengandung vitamin A, C, antioksidan, asam linoleat, saponin, kalsium, zat fosfor, dan zat besi. Manfaatnya mulai dari menjaga kesehatan mata, mencegah penyakit flu dan infeksi, menurunkan kadar lemak dan kolesterol, sampai mencegah penuaan dini, kanker saluran pencernaan, dan penyakit jantung.

Daging buah timun suri yang cenderung hambar dan banyak mengandung air biasanya dipotong-potong dadu lalu dicampurkan dengan es sirop agar lebih enak. Selain itu, bisa diolah menjadi apa lagi?

"Blender tanpa gula, lalu minum. Bisa juga diparut dan dicampur dengan jeli menjadi puding putih. Sajikan dengan saus jeruk," kata Chef Haryo Pramoe yang kini gencar mempromosikan kuliner Indonesia lewat Indonesian Food Channel kepada Detikfood (11/07/2014).

Chef Haryo mengingatkan bahwa meski terasa lebih enak, proses pemasakan seperti saat membuat puding bisa mengurangi kandungan gizi timun suri. "Makanan sehat adalah makanan yang tak banyak berubah dari bentuk asalnya," ujarnya.

Di pasar tradisional, timun suri ukuran sedang dijual dengan harga Rp 5.000-8.000 per buah. Pilih buah yang sudah tua agar dagingnya pulen dan tak pahit. Buah yang masak di pohon retak bagian luarnya karena mengembang, sehingga kulitnya sobek. Pastikan kulitnya tidak layu untuk menjamin higienitas buah.

Selain itu, timun suri yang matang di pohon beraroma harum segar. Berbeda dengan timun suri yang matang karena dikarbit, baunya menyengat tak wajar. Warna kuning atau hijau tak menentukan masak atau tidaknya buah karena memang ada varietas timun suri hijau.

(lus/odi)