Inilah Penjelasan Mengapa Diet Mediterania Memiliki Banyak Manfaat Kesehatan

- detikFood Rabu, 21 Mei 2014 19:43 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Berbagai penelitian menyebutkan bahwa diet Mediterania membawa banyak manfaat bagi kesehatan, seperti mencegah dementia, menjaga kesehatan jantung, dan menurunkan kadar kolesterol. Apa rahasianya?

Diet Mediterania terinspirasi hidangan tradisional Yunani, Spanyol, dan Italia. Pola makan ini banyak konsumsi sayur, buah, sereal berbiji utuh, minyak zaitun, dan kacang. Daging unggas dan ikan lebih diutamakan daripada daging merah dan lemak hewan.

Masing-masing komponen diet Mediterania memang memiliki manfaat hebat untuk kesehatan. Namun, para peneliti masih bingung apa yang membuat diet Mediterania secara keseluruhan begitu menyehatkan.

Profesor Philip Eaton dari King's College London, Inggris dan rekan-rekannya dari University of California, Amerika Serikat yakin bahwa kombinasi bahan-bahan diet Mediterania tersebut menghasilkan asam lemak nitro.

Dalam studinya yang sebagian dibiayai Yayasan Jantung Inggris, peneliti menggunakan tikus rekayasa genetik untuk melihat dampak asam lemak nitro terhadap tubuh tikus.

Ternyata, asam lemak nitro membantu menurunkan tekanan darah dengan memblokir enzim epoxide hydrolase. "Manusia juga memiliki enzim ini, jadi kami menduga hal yang sama juga terjadi pada manusia," kata Profesor Eaton.

Asam lemak nitro terbentuk dari reaksi kimia akibat konsumsi lemak tak jenuh (kacang, alpukat, ikan, dan minyak zaitun) dan nitrat atau nitrit (sayur berdaun hijau) secara berbarengan.

"Ini adalah mekanisme perlindungan alami. Jika kita bisa memanfaatkannya, kita bisa menciptakan obat baru untuk mengatasi tekanan darah tinggi dan mencegah penyakit jantung," ujar Profesor Eaton seperti dilansir BBC News Health (20/05/2014).

Ia percaya hasil penelitiannya membantu menjelaskan manfaat kesehatan lain dari diet Mediterania. "Sebab, tekanan darah tinggi juga adalah faktor risiko dari banyak penyakit lain," kata Profesor Eaton kepada ABC Science (20/05/2014).

Bagaimanapun juga, menurut Dr. Sanjay Thakrar dari Yayasan Jantung Inggris, diperlukan penelitian lebih lanjut karena percobaan ini dilakukan pada tikus. Penelitian terhadap manusia sedang direncanakan.




(fit/odi)