Orang-orang Prancis mengonsumsi makanan tinggi lemak yang sering dituduh sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung. Anehnya, angka penyakit jantung di negara tersebut rendah. Kondisi yang dikenal dengan sebutan 'French Paradox' ini diduga terjadi karena konsumsi red wine dalam jumlah tak berlebihan.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa red wine, dark chocolate, dan berry dapat mengurangi inflamasi. Para ilmuwanpun berspekulasi bahwa kandungan resveratrol dalam ketiga makanan itulah yang berperan dalam hal ini.
Namun, studi Profesor Richard Semba dan rekan-rekannya dari Johns Hopkins University School of Medicine berpendapat lain. "Pemikiran bahwa beberapa makanan baik untuk kita karena mengandung resveratrol, kami tak menemukannya sama sekali," ujar Semba.
Kesimpulan ini mereka dapat setelah meneliti 783 orang lansia di dua kota kecil di Tuscany, Italia. Para peserta studi menjelaskan tentang konsumsi makanan mereka sehari-hari sekaligus memberikan sampel urin untuk mengukur asupan resveratrol mereka.
Setelah diteliti selama sembilan tahun, 268 orang pria dan wanita meninggal dunia. Sementara itu, 174 orang menderita penyakit jantung dan 34 orang mengalami kanker. Namun, kadar resveratrol dalam air seni tak terkait dengan risiko kematian, penyakit jantung, maupun kanker. Hubungannya dengan tanda inflamasi dalam darah juga tidak ada.
Menurut Semba, kalaupun ada manfaat yang didapat dari mengonsumsi red wine, dark chocolate, atau berry, pasti berasal dari bahan lain. Lagipula, tak jelas seberapa banyak yang harus dikonsumsi.
"Makanan-makanan tersebut kompleks, dan kami tahu dari penelitian kami bahwa manfaatnya bukan karena resveratrol," kata Semba lewat laporannya di JAMA Internal Medicine.
Kepada BBC News (13/05/2014), Maureen Talbot, perawat jantung senior di Yayasan Jantung Inggris, mengakui perlunya memelajari lebih jauh tentang manfaat resveratrol.
"Dibutuhkan juga pembiayaan riset terkait manfaat resveratrol untuk melawan penyakit serta bagaimana zat tersebut memengaruhi jantung dan sistem sirkulasi darah. Penelitian ini sangat penting karena bisa membentuk basis kedokteran di masa depan," tutupnya.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN