Ini merupakan kasus flu burung pertama di Jepang dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Tes DNA yang dilakukan pada peternakan di Kumamoto itu memperlihatkan adanya virus H5. Pemilik peternakan awalnya melaporkan karena banyak kematian mendadak terjadi diantara 56.000 unggas di peternakannya. Ada sekitar 1.100 ayam mati di peternakan itu.
Pemerintah setempat sejak Sabtu (12/04/2014) melarang perpindahan ayam dari dua peternakan yang terjangkit H5 dan peternakan lain didaerah sekitarnya. Pihak berwenang sedang melakuan disinfeksi di daerah tersebut dan diadakan pengujian unggas pada peternakan daerah lainnya.
Selain peternakan tersebut, pihak kementerian juga memerintahkan pemusnahan 56.000 unggas lainnya yang ada di peternakan berbeda dijalankan oleh pemilik yang sama. Peternakan disinyalir sebagai lokasi infeksi flu burung juga. Hal ini disampaikan oleh Kementrian Pertanian, Perhutanan, dan Perikanan Jepang dalam sebuah pernyataan publik.
Kementerian telah memperingatkan peternak mengenai risiko infeksi penyakit flu burung yang tersebar di Asia, termasuk negara tetangganya Korea Selatan.
Kedepannya, pemerintah Jepang akan mengirim tim dari kementerian dan ahli untuk mengidentifikasi penyebab infeksi flu burung di Jepang. Hal ini juga dilakukan untuk membantu pemerintah daerah mengambil tindakan yang diperlukan.
“Pemerintah akan mengambil langkah-langkah secara menyeluruh untuk mencegah penyebaran infeksi yang lebih luas,” ucap Kepala Sekretaris Kabinet, Yoshihide Suga, seperti dilansir dari AFP (13/04/2014).
Menurut pejabat Kementrian Pertanian Jepang, Tomoyuki Takehisa, tidak ada risiko penyebaran virus kepada manusia melalui konsumsi telur atau daging ayam.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN