Minuman berkarbonasi beredar sejak awal abad ke 19 yaitu dengan dibuatnya air bersoda. Kemudian air bersoda ini mulai dimodifikasi dengan ditambahkan perisa sekitar tahun 1851. Penelitian ini karena adanya salah informasi sehingga muncul ketakutan dan pemikiran yang kurang ilmiah.
Pada acara 'Kupas Fakta tentang Karbonasi dalam Minuman' yang diadakan oleh ASRIM (Asosiasi Industri Minuman Ringan) pada hari Rabu (02/04/2014). Dr. Puspo Edi Giriworo, selaku peneliti dari SEAFAST Center memaparkan hasil kajian mengenai karbonasi dalam minuman.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengedukasi konsumen, menggali hasil dari semua studi yang berkaitan dengan karbonasi dalam minuman. Juga memaparkan konsensus hasil studi ilmiah yang berlaku ataupun berkembang untuk dampak karbonasi dalam minuman.
Penelitian ini dilakukan dengan metode systematic review. Dalam penelitian ini dilakukan pencarian data menggunakan search engine studi ilmiah yang berjumlah 156 buah yang pada akhirnya diseleksi kembali dan tersisa artikel yang dikaji atau didiskusikan lebih lanjut sebanyak 20 buah.
Studi literatur yang dilakukan oleh tim SEAFAST Center mengerucutkan fokusnya pada tiga jenis penyakit. Penyakit ini oleh masyarakat dianggap sebagai dampak dari mengonsumsi minuman ringan berkarbonat.
Pertama, karbonasi dan kesehatan mulut. Berdasarkan hasil riset faktor karbonasi tidak dapat dijadikan penyebab tunggal terjadinya kerusakan gigi. Studi klinis menunjukkan bahwa rusaknya enamel gigi lebih disebabkan karena faktor lain yang memudahkan keasaman air liur meningkat cepat seperti penderita karies gigi atau gigi berlubang.
Kedua, karbonasi dan kanker esogafus (kerongkongan). Temuan terakhir hasil penelusuran literatur pada beberapa artikel medis yang memusatkan perhatian pada dampak lebih lanjut dari penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) yaitu meningkatnya risiko timbulnya kanker esofagus. Hasil studi menegaskan bahwa tidak ada kaitan konsumsi minuman berkarbonasi dengan kanker esofagus. Faktor yang lebih dominan adalah merokok, obesitas dan konsumsi alkohol.
Ketiga, karbonasi dan kesehatan lambung. Dari hasil penelusuran berbagai artikel ilmiah mengenai dampak karbonasi terhadap kesehatan saluran pencernaan tidak ditemukan adanya korelasi antara karbonasi dalam minuman dengan kesehatan saluran pencernaan. Faktor yang menyebabkan penyakit pada saluran cerna sangat kompleks sehingga tidak bisa disimpulkan minuman ringan berkarbonasi menyebabkan terjadinya penyakit-penyakit tersebut.
Terkait hal ini, Dr. dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH., MMB selaku pakar Gastroenterologi menambahkan secara penelitian klinis juga memperhatikan bahwa konsumsi minuman berkarbonasi oleh seseorang dalam kondisi sehat dalam jumlah wajar tidak akan menimbulkan gangguan kesehatan lambung.
Dari hasil kajian diatas dapat disimpulkan bahwa karbonasi dalam minuman yang dikonsumsi oleh konsumen yang sehat tidak berdampak buruk pada kesehatan. Terlepas dari itu, konsumen harus tetap pintar memilih minuman ataupun makanan yang akan dikonsumsi.
Karena karbonasi dalam minuman memang tak memiliki efek untuk kesehatan akan tetapi jika mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula tinggi maka akan menimbulkan efek yang akan merugikan bagi kesehatan.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN