Benarkah Konsumsi Lemak Jenuh Berbahaya untuk Jantung?

Benarkah Konsumsi Lemak Jenuh Berbahaya untuk Jantung?

- detikFood
Senin, 24 Mar 2014 07:51 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Selama 40 tahun, lemak jenuh pada keju, daging dan produk olahan susu tinggi lemak telah menjadi musuh utama kesehatan. U.S. Dietary Guidelines menghibmau pembatasan konsumsi lemak jenuh karena berisiko bagi kesehatan jantung.

Namun setelah penelitian berpuluh tahun, semakin banyak ahli yang mempertanyakan hubungan lemak jenuh dengan penyakit jantung. Faktanya, penulis dari sebuah meta-analisis baru yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti mendukung anjuran konsumsi lemak jenuh dalam jumlah sedikit.

Kekhawatiran mengenai lemak mulai ada di tahun 1960an, saat sebuah studi menunjukkan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan LDL kolesterol (kolesterol buruk). Peningkatan ini diasumsikan dapat memicu risiko penyakit jantung.

Akan tetapi setelah sekian lama, hasil studi itu menjadi tidak meyakinkan. Saat peneliti-peneliti telah memantau asupan lemak jenuh dari waktu ke waktu. Kemudian menindaklanjuti guna melihat apakah semakin tinggi asupan dapat berisiko serangan jantung dan stroke. Peneliti tidak menemukan hubungan yang jelas dan konsisten di antara keduanya.

Studi baru menemukan “null association” atau keterkaitan nol antara total asupan lemak jenuh dengan risiko koroner. Analisis sebelumnya yang melibatkan 300.000 partisipan juga memberikan kesimpulan serupa.

Peneliti mengatakan bahwa hubungan antara kolesterol dan penyakit jantung jauh lebih rumit dari yang diketahui. LDL hanyalah satu indikator dari risiko ini. Hal lebih utama dalam memprediksi risiko jantung adalah dengan melihat rasio antara LDL dan HDL (kolesterol baik) yang dimiliki seseorang.

Bukti menunjukkan bahwa lemak jenuh dapat meningkatkan HDL dan menurunkan simpanan lemak di darah atau triglycerides, yang memproteksi tubuh dari penyakit jantung.

Dariusch Mozaffarian, MD Harvard dan co-author dari makalah penelitian tentang lemak jenuh, mengatakan kalau lemak jenuh memiliki efek netral.

“Ini bukan efek menguntungkan namun bukan efek membahayakan juga. Saya pikir inilah yang ditunjukkan pada penelitian terbaru,” ungkap Mozaffarian seperti dilansir dari The Salt (17/03/2014).

Mozaffarain menambahkan bahwa diet sehat seharusnya dengan mengonsumsi makanan seperti kacang, sayuran, minyak zaitun (mengandung sedikit lemak jenuh), ikan, buah dan porsi kecil dari produk hewani seperti yogurt dan keju.

Bila ditanya apakah lemak jenuh baik atau buruk, menurut Mozaffarian itu tergantung apa yang dimakan. Dia merujuk ke studi lain yang menemukan bahwa tidak ada gunanya mengganti lemak jenuh dengan karbohidrat. Menurut penelitian, lemak jenuh tidak harus dihilangkan tapi dipilah-pilah.

Namun tidak semua orang yakin dengan hasil studi baru yang mempertanyakan hubungan lemak jenuh dan penyakit jantung itu. Kelompok seperti World Health Organization dan American Heart Association justru mempromosikan asupan rendah lemak jenuh.

Menurut ahli, hal yang perlu diingat adalah asupan kalori berlebih dari sumber manapun baik lemak atau karbohidrat dapat meningkatkan berat badan. Kelebihan berat inilah yang memicu peningkatan risiko penyakit jantung.

(odi/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads