Jingle Iklan Junk Food Bisa Picu Pembelian Makanan Tidak Sehat

Jingle Iklan Junk Food Bisa Picu Pembelian Makanan Tidak Sehat

- detikFood
Jumat, 21 Mar 2014 12:47 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Seringnya melihat iklan produk makanan junk food membuat jingle iklan menjadi akrab dan dapat dihafal. Mayoritas produsen camilan tinggi kalori juga menggunakan jingle yang dapat diingat terus sepanjang masa oleh konsumen.

Ternyata menurut sebuah studi baru, jingle iklan di TV dan radio dapat berkontribusi pada epidemi obesitas. Suara pada iklan itu disinyalir dapat 'mencuci otak' agar lebih memilih makanan tidak sehat dibanding sayuran.

Dalam studi tersebut, para peneliti di University of Texas menunjukkan foto-foto makanan kepada 200 mahasiswa sarjana. Kemudian peneliti memutar audio pendek pada beberapa foto yang sedang ditampilkan.

Saat partisipan ditunjukkan kembali foto yang telah diputar dan disuruh memilih kesukaannya, lebih dari 60 persen ternyata menyukai produk yang digabung dengan suara. Menariknya lagi, saat tes serupa dilakukan dua bulan kemudian, subyek penelitian tetap lebih memilih foto makanan dengan bunyi audio.

Peneliti di University of Texas percaya penemuannya tersebut dapat berguna bagi ahli nutrisi, dimana audio dapat digunakan untuk mempengaruhi pasien memilih makanan yang lebih baik.

Nathaniel Daw, computational neuroscientist di New York University yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan pada Science Magazine bahwa dia tertarik dengan hasil itu.

β€œIni satu hal yang dapat dilakukan pada berbagai jenis junk food. Tapi apakah dapat dilakukan untuk menjauhkan orang dari cokelat Snickers dan membuat mereka lebih tertarik dengan sayur kale?” ucap Daw seperti dilansir dari Daily Mail (20/03/2014).

Tim dari University of Texas kini sedang mencari cara membuat efeknya lebih tahan lama. Mereka juga mempelajari seberapa baik pelatihan ini bekerja dalam mengubah preferensi makanan diluar junk food. Temuan baru mengenai jingle tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, Nature Neuroscience.

(dni/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads