Peneliti Universitas Adelaide, Australia mengungkapkan saraf dalam usus manusia berperan sebagai ritme sirkadian yang membatasi asupan makanan dalam waktu-waktu tertentu selama satu hari.
Temuan yang dipublikasikan The Journal of Neuroscience ini menunjukkan bagaimana usus mengirim sinyal ke otak untuk memberitahu kapan merasa kenyang atau kapan harus terus makan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
βSaraf dalam usus bertanggungjawab memberitahu otak berapa banyak makanan yang sudah kita makan dan kapan harus berhenti makan,β ujar Kentish. Menurutnya, saraf dalam usus menjadi sangat sensitif saat tubuh dalam keadaan aktif. Artinya, kita lebih banyak makan saat menjalani aktivitas padat dimana lebih banyak energi yang dibutuhkan tubuh.
βAkan tetapi, dengan adanya perubahan siklus siang-malam yang berhubungan dengan tidur, saraf-saraf dalam usus menjadi lebih sensitif untuk meregang. Hal ini membuat pengiriman sinyal βkenyangβ ke otak menjadi lebih cepat sehingga membatasi asupan makanan,β jelas Kentish.
Menurut Kentish, saraf dalam usus menjadi kurang sensitif ketika mengirim sinyal βkenyangβ saat siang hari dan menjadi sangat sensitif ketika mengirim sinyal βkenyangβ saat malam hari.
Pemimpin studi, Profesor Amanda Page mengatakan penelitian ini bisa diarahkan lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana perubahan ritme sirkadian seseorang mempengaruhi kebiasaan makan.
βKita tahu bahwa pekerja shift malam lebih rentan mengalami gangguan tidur dan makan sehingga menyebabkan obesitas dan masalah kesehatan lainnya. Kami sedang melakukan penelitian untuk melihat bagaimana perubahan ritme sirkadian seseorang mempengaruhi perilaku makan dan bagaimana saraf di usus bereaksi terhadap perubahan tersebut,β ujar Page.
(odi/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN