Ini Alasannya Orang Makan Siang Lebih Banyak dari Makan Malam

Ini Alasannya Orang Makan Siang Lebih Banyak dari Makan Malam

- detikFood
Senin, 16 Des 2013 06:57 WIB
Foto: Daily Record
Jakarta - Mengapa orang makan lebih banyak saat makan siang dibanding makan malam? Hal ini berkaitan dengan ritme sirkadian atau jam biologis tubuh yang berlangsung selama 24 jam. Rupanya syaraf di usus yang berperan.

Peneliti Universitas Adelaide, Australia mengungkapkan saraf dalam usus manusia berperan sebagai ritme sirkadian yang membatasi asupan makanan dalam waktu-waktu tertentu selama satu hari.

Temuan yang dipublikasikan The Journal of Neuroscience ini menunjukkan bagaimana usus mengirim sinyal ke otak untuk memberitahu kapan merasa kenyang atau kapan harus terus makan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diberitakan Science Daily (13/12/2013), Dr Stephen Kentish meneliti bagaimana saraf dalam usus meregang ketika ada asupan makanan tiap interval tiga jam selama satu hari.

β€œSaraf dalam usus bertanggungjawab memberitahu otak berapa banyak makanan yang sudah kita makan dan kapan harus berhenti makan,” ujar Kentish. Menurutnya, saraf dalam usus menjadi sangat sensitif saat tubuh dalam keadaan aktif. Artinya, kita lebih banyak makan saat menjalani aktivitas padat dimana lebih banyak energi yang dibutuhkan tubuh.

β€œAkan tetapi, dengan adanya perubahan siklus siang-malam yang berhubungan dengan tidur, saraf-saraf dalam usus menjadi lebih sensitif untuk meregang. Hal ini membuat pengiriman sinyal β€˜kenyang’ ke otak menjadi lebih cepat sehingga membatasi asupan makanan,” jelas Kentish.

Menurut Kentish, saraf dalam usus menjadi kurang sensitif ketika mengirim sinyal β€˜kenyang’ saat siang hari dan menjadi sangat sensitif ketika mengirim sinyal β€˜kenyang’ saat malam hari.

Pemimpin studi, Profesor Amanda Page mengatakan penelitian ini bisa diarahkan lebih lanjut untuk mengetahui bagaimana perubahan ritme sirkadian seseorang mempengaruhi kebiasaan makan.

β€œKita tahu bahwa pekerja shift malam lebih rentan mengalami gangguan tidur dan makan sehingga menyebabkan obesitas dan masalah kesehatan lainnya. Kami sedang melakukan penelitian untuk melihat bagaimana perubahan ritme sirkadian seseorang mempengaruhi perilaku makan dan bagaimana saraf di usus bereaksi terhadap perubahan tersebut,” ujar Page.

(odi/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads