Telur Fortifikasi, Benar Bernutrisi atau Sekadar Strategi Pemasaran?

Ulasan Khusus: Telur

Telur Fortifikasi, Benar Bernutrisi atau Sekadar Strategi Pemasaran?

Fitria Rahmadianti - detikFood
Selasa, 26 Nov 2013 16:54 WIB
Telur Fortifikasi, Benar Bernutrisi atau Sekadar Strategi Pemasaran?
Foto: Detikfood
Jakarta - Di supermarket, beragam label telur ayam dengan berbagai klaim nutrisi dan kesehatan. Ada yang ditambahkan omega-3, disebut rendah kolesterol, bahkan adapula yang menulis telurnya tak memicu alergi dan bisul.

Melihat label tadi, masyarakat awam mungkin akan percaya dan tertarik membeli. Apakah klaim-klaim tersebut benar atau sekadar strategi pemasaran? Agar lebih jelas, Detikfood mewawancarai Atin Nurafiatin, ahli gizi dari My Meal Catering.

1. Diperkaya omega-3

Foto: Detikfood
"Perbedaan kandungan nutrisi dalam telur biasanya disebabkan oleh pakan ayam betina," ujar Atin saat dihubungi lewat telepon, Selasa (26/11/13). Contohnya adalah telur yang diperkaya omega-3 dan DHA, padahal secara alami telur mengandung omega-6.

Dibanding ayam yang diberi pakan jagung atau kedelai, ayam yang diberi makan sayuran dan serangga menghasilkan telur yang lebih tinggi omega-3nya. Terkadang, minyak ikanpun ditambahkan agar konsentrasi omega-3 dalam telur lebih tinggi.

Cara lain menambah kadar omega-3, terutama DHA, dalam telur adalah dengan mencampurkan flaxseed dan canola ke dalam pakan ayam. Menambahkan ganggang hijau atau rumput laut ke pakan ayam juga dapat menambah kandungan DHA dan EPA, dua bentuk omega-3. Omega-3 sendiri diyakini dapat mengatasi rematik sampai mencegah Alzheimer dan dementia.

2. Telur organik dan vegetarian

Foto: Detikfood
Telur organik dihasilkan ayam yang diberi akses ke luar, tidak dikurung di kandang sempit. Pakannyapun organik, bebas dari arsenik, antibiotik, pestisida, produk turunan hewan, dan organisme rekayasa genetika.

"Juga tanpa suntikan hormon. Bentuknya mirip telur ayam kampung, namun sebenarnya dihasilkan oleh ayam negeri," ujar Atin. Namun, menurut riset Australian Egg Corporation, tak ada perbedaan kandungan nutrisi antara telur organik dengan telur biasa. Selain itu, Indonesia tak memiliki badan sertifikasi resmi yang menjamin organiknya suatu produk, seperti di Amerika.
Β 
Bagaimana dengan telur berlabel '100% vegetarian feed'? Artinya, ayam tak diberi makan serangga, hanya pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. "Tampaknya hanya strategi pemasaran untuk menarik pembeli vegetarian. Soalnya baik pakannya vegetarian atau tidak, makanan akan diproses dalam tubuh ayam dan menghasilkan telur yang sama sekali bukan produk vegan," ujar Atin.

3. Rendah kolesterol

Foto: Detikfood
Kuning telur dikenal tinggi kolesterol, yakni 212 mg. Namun, ada merek telur yang mengklaim rendah kolesterol. "Mungkin karena kandungan omega-3nya tinggi, jadi menyeimbangkan kadar kolesterol dalam telur," jelas Atin.

4. Diperkaya selenium, vitamin A, vitamin E

Foto: mindbodygreen.com
Selenium, vitamin A, dan vitamin E sebenarnya sudah terkandung dalam telur secara alami. Selenium yang terdapat di kuning telur berasal dari pakan ayam berupa padi-padian yang menyerap mineral ini dari dalam tanah. Telur juga sudah mengandung jenis vitamin A, yakni retinol, dan vitamin E.

5. Bebas Salmonella dan flu burung

Foto: Detikfood
Telur ayam bisa terkontaminasi bakteri Salmonella enteritidis dari kotoran di cangkang telur. Bakteri ini bisa menyebabkan keracunan dengan gejala diare, demam, muntah, dan kram perut selama 4-7 hari. Tampaknya, ayam yang menghasilkan telur dengan klaim bebas Salmonella dan flu burung telah disuntik vaksin.

6. Tidak memicu alergi dan bisul

Foto: Detikfood
Banyak orang percaya bahwa terlalu banyak makan telur bisa menyebabkan timbulnya bisul. Padahal, bisul tidak disebabkan oleh konsumsi telur, melainkan karena bakteri dan kebersihan yang tidak dijaga. Sementara itu, alergi telur disebabkan oleh hipersensitivitas terhadap kandungan telur.

"Antibodi bekerja berlebihan terhadap salah satu protein dalam putih telur. Terutama kalau telurnya setengah matang, sehingga memicu tubuh bekerja lebih keras. Jadi, alergi dan bisul terjadi karena faktor tubuh juga," kata Atin.
Halaman 2 dari 7
(fit/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads