Seperti yang diberitakan Euromonitor International, konsumsi makanan olahan di China memang luar biasa. Konsumsinya mencapai 107 juta ton bahkan melampaui Amerika Serikat yang hanya sekitar 102 juta ton.
Jika dilihat jumlah penduduk, China memang lebih banyak penduduknya daripada Amerika. Hal itu berarti rata-rata orang China hanya memakan seperempat makanan olahan saja, dan lebih kecil dari rata-rata orang Amerika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktor lain adalah karena makin banyaknya jumlah wanita yang masuk dalam kelas pekerja. Hal ini dilihat sebagai peluang oleh perusahaan makanan olahan seperti Kraft, Nestle, atau PepsiCo. Benar saja, karena hadirnya produk-produk ini, konsumsi kudapan bergaya barat di banyak convenience store pun melonjak seiring berjalannya waktu.
Contohnya saja produksi biskuit di China. Pertumbuhannya sudah sebanyak 20% dan mencapai omzet 267 miliar rupiah. Ternyata hal ini membawa dampak negatif. Hampir 12% orang dewasa atau sekitar 114 juta orang telah menderita diabetes. Juga penyakit jantung, stroke, dan ginjal sepertinya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Anak kecil pun tak ketinggalan mendapat masalah. Menurut WHO, kandungan gula, garam, dan lemak pada makanan olahan menimbulkan dampak obesitas yang cukup tinggi. Menurutnya, sekitar 38% orang China yang berumur di bawah 15 tahun sudah kelebihan berat badan. Data ini sangat tinggi dibandingkan pada tahun 1982 yang hanya sekitar 7% saja penderita obesitas.
Pembukaan gerai makanan cepat saji juga mempengaruhi masyarakat China. Berlainan dengan cara pandang orang-orang Amerika yang menganggap bahwa makanan cepat saji seperti McDonalds itu adalah makanan yang tidak sehat dan diperuntukkan kepada kelas menengah ke bawah. Orang China menganggap gerai ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang dari kelas menengah.
(dni/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN