Seperti dimuat di jurnal Environmental Health Perspectives, peneliti membandingkan kadar merkuri di sampel darah lebih dari 4.000 orang wanita hamil di Bristol, Inggris. Pola makan dan gaya hidup para partisipan juga dianalisis.
Hasilnya, ikan hanya menyumbang 7% merkuri di tubuh wanita, sementara makanan dan minuman berkontribusi sebanyak 17%. Secara keseluruhan, hanya 38 orang (kurang dari 1%) wanita yang memiliki kadar merkuri lebih dari batas maksimal yang disarankan US National Research Council.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Golding, mengonsumsi ikan selama kehamilan akan menguntungkan ibu dan bayinya. "Kami harap semakin banyak wanita mengonsumsi ikan selama mengandung," tuturnya.
Hal serupa diutarakan Profesor Charles Kingsland dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. "Ikan mengandung nutrisi penting. Kami tak akan menyuruh pasien menghindarinya karena ikan mengandung merkuri. Kami justru menyarankan mereka makan ikan lebih banyak karena kaya akan minyak omega-3 dan berbagai nutrisi yang baik untuk Anda," jelas Kingsland.
Di lain pihak, Food Standard Agency menyebutkan bahwa anak-anak, wanita hamil, dan wanita yang berencana hamil sebaiknya tak memakan daging ikan hiu, marlin, atau ikan pedang.
Jika Anda berencana hamil atau sedang hamil, sebaiknya Anda tak menyantap lebih dari empat kaleng tuna seminggu. Mackerel, sardin, salmon, dan trout sebaiknya tidak dikonsumsi lebih dari dua kali seminggu.
Selain ikan, sumber merkuri lain di antaranya polusi udara, tambalan gigi, dan pestisida. Penelitian ini juga menemukan bahwa teh herbal berkaitan dengan kadar merkuri yang lebih tinggi dalam darah. Diperkirakan karena teh herbal tersebut telah terkontaminasi.
Selain itu, wine juga meningkatkan kadar merkuri lebih tinggi daripada bir. Namun, wanita yang makan banyak keripik kentang dan roti putih cenderung memiliki kadar merkuri rendah.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN