Makan Lima Kali Sehari Bisa Cegah Obesitas pada Remaja

Makan Lima Kali Sehari Bisa Cegah Obesitas pada Remaja

- detikFood
Selasa, 08 Okt 2013 13:15 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Obesitas kini tak hanya dialami orang dewasa tetapi juga remaja. Untuk mencegah obesitas, tim peneliti dari Finlandia menyebutkan, anak perlu makan hingga lima kali sehari dan tidak boleh melewatkan sarapan.

Studi ini dilakukan oleh University of Eastern Finland yang melibatkan 4000 remaja. Tim peneliti mengikuti partisipan dari sejak lahir hingga umur 16 tahun untuk mengidentifikasi faktor awal obesitas.

Dilansir dalam Daily Mail (08/10/2013) Penelitian ini juga menginvestigasi hubungan antara kondisi tubuh dan frekuensi makan. Hasil penelitian menyatakan remaja perempuan dan laki-laki yang selalu mengonsumsi makanan empat hingga lima kali sehari mempunyai risiko lebih rendah mengidap obesitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Frekuensi makan yang cukup sering terbukti bisa menurunkan BMI (Body Mass Index), lemak berlebihan, obesitas di perut khususnya pada remaja pria yang bisa memicu gangguan metabolisme.

Studi juga menemukan ibu yang mengalami kenaikan berat badan lebih dari tujuh kilogram pada 20 minggu pertama kehamilan meningkatkan risiko obesitas pada anak. Tapi, obesitas sebelum hamil juga tidak kalah berbahayanya dan obesitas pada ayah juga tak kalah pentingnya.

Risiko obesitas sangat tinggi pada remaja yang orangtuanya kelebihan berat badan dengan BMI 25 atau lebih selama jangka waktu 16 tahun. β€œPenemuan ini menegaskan pentingnya peranan seluruh keluarga untuk mencegah obesitas pada anak. Selain itu, penting untuk waspada terhadap faktor genetis yang bisa dirubah dengan perubahan pola makan,” tutur Anne Jaaskelainen selaku kepala peneliti.

Obesitas telah dihubungkan dengan beberapa penyakit serius seperti risiko terserang diabetes tipe 2, asma, dan kesulitan bernafas saat tidur. Hasil penemuan ini dipublikasikan di International Journal of Obesity, International Journal of Obstetrics and Gynaecology, Nutrition, Metabolism and Cardiovascular Diseases, dan PLOS One.

(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads