Menu Restoran Cepat Saji di Amerika Belum Terbukti Menyehatkan

Menu Restoran Cepat Saji di Amerika Belum Terbukti Menyehatkan

Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood
Minggu, 06 Okt 2013 11:38 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Fried Chicken, french fries dan cheese burger adalah menu andalan restoran cepat saji. Sayangnya hidangan ini belum dinyatakan benar-benar menyehatkan.

Seperti dikutip DailyMail (04/05/2013), hidangan utama di restoran cepat saji dinyatakan belum tentu menyehatkan. Meski iklan kampanye yang mempromosikan penggunaan bahan-bahan berkualitas di restoran cepat saji masih gencar dilakukan di Amerika

Menurut sebuah laporan terbaru, kadar kalori dan sodium dalam rantai makanan cepat saji di Amerika masih tetap sama, antara tahun 2010 dan 2011. Walaupun ada sedikit dugaan jika jumlah kalori dan sodium dalam rantai makanan cepat saji akan terus menurun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Academy of Nutrrition and Dietetics, mengunakan informasi nutrisi dari 213 restoran yang berbeda di seluruh Amerika. Sayangnya tidak ada satupun nama restoran yang dicantumkan dalam laporan.

Dari catatan penelitian bisa terlihat jika tim peneliti membandingkan data dari 26.000 item menu biasa. Rata-rata per item menu mengandung kalori sekitar 617 kkal. Jumlah kalori ini masih sama antara tahun 2010 dengan tahun 2011. Perbedaannya hanya pada kadar sodium yang berkurang sekitar 1.515 mg hingga 1.500 mg per piring saji.

Kurangnya kadar natrium ini sangatlah positif. Akan tetapi dalam jangka waktu panjang harus ada perubahan yang lebih dramatis lagi dibandingkan tahun 2010 dengan 2011. Karena harus sudah mulai diberlakukan pemberian label menu makanan cepat saji yang dikaitkan dengan kesehatan. Seperti, menampilkan kandungana kalori dan sodium di tiap menu dengan jelas.

β€œKonsumen perlu menyadari ketika mereka masuk ke sebuah restoran, mereka memiliki risiko tinggi dengan masalah kesehatan. Karena mereka akan memilih menu makanan yang sarat kalori juga natrium.” ungkap Helen Wu, salah satu penulis penelitian.

(dyh/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads