Makan Junk Food Berlebihan Bisa Picu Kenaikan Berat Badan dan Depresi

Makan Junk Food Berlebihan Bisa Picu Kenaikan Berat Badan dan Depresi

Dyah Oktabriawatie Waluyani - detikFood
Rabu, 18 Sep 2013 13:09 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Depresi sering kali muncul akibat aktifitas yang padat. Bisa juga disebabkan oleh asupan makanan yang tidak bernutrisi. Depresi berat bisa dikurangi dengan menerapkan diet sehat, dan menjauhi makanan siap saji.

Sebuah penelitian dilakukan oleh University of Eastern Finland, melibatkan 2.000 responden pria berusia 13 tahun. Dengan cermat tim peneliti mengamati diet, berat badan hingga gejala depresi para responden.

Dari hasil penelitian ditemukan ada beberapa dari mereka yang memiliki pola makan buruk. Karena, responden memiliki asupan nutrisi yang rendah dan banyak mengonsumsi makanan berlemak. Karenanya berat badan mereka cepat naik dan lebih mungkin mengalami masalah kesehatan mental dibandingkan mereka yang memiliki pola makan yang benar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Penelitian ini bertujuan untuk memperkuat hipotesis bahwa diet yang sehat berpotensi untuk mencegah depresi.” jelas kepala penelitian, Anu Ruusunen seperti dikutip Newsmaxhealth (17/09/2013).

Pada hasil penelitian juga menunjukkan jika menerapkan diet sehat dengan mengonsumsi sayuran, buah-buahan, biji-bijian, ikan dan keju rendah lemak cenderung memiliki tingkat depresi yang lebih rendah. Bahkan bisa mengurangi depresi berat yang dialami responden. Selain itu, asupan asam folat dan minum kopi juga dapat menurunkan risiko depresi.

Namun berbeda dengan responden yang banyak makan junkfood seperti sosis, daging olahan, roti putih, camilan manis, dan kentang panggang. Mereka justru lebih mudah mengalami depresi bahkan memicu gejala depresi yang lebih parah.

Depresi bisa diatasi secara medis melalui psikoterapi. Tetapi para peneliti dari Finlandia menyarankan agar menjalankan diet sehat dan merubah gaya hidup. Cara alami ini diyakini efektif mencegah dan mengobati depresi.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam beberapa jurnal kesehatan seperti jurnal Psychotherapy and Psychosomatics, European Journal of Nutrition dan Public Health Nutrition and Diabetic Medicine.

(dyh/odi)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads