Tim peneliti dari Ohio, Amerika Serikat menemukan wanita yang mengonsumsi asam lemak omega-3 baik dari sumber nabati maupun hewani beresiko menderita patah tulang pinggul lebih rendah. Hasil ini dinyatakan setelah dilakukannya analisa sampel sel darah merah wanita yang punya sejarah patah tulang pinggul dan yang tidak.
Peneliti berhipotesis bahwa inflamasi yang berkontribusi pada resorpsi tulang, pemecahan tulang yang disebabkan oleh pelepasan sel osteoclasts.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sel darah merah bisa memberikan indikasi paparan jangka panjang asam lemak tersebut. Tim peneliti mengumpulkan sampel darah dan data patah tulang pinggul dari Women's Health Initiative (WHI). Sebuah studi besar skala nasional terhadap wanita pasca meopause yang terdaftar antara 1993- 1998 dan telah diamati selama 15 tahun. Dari 324 pasang partisipan WHI, setengahnya menderitanya tulang pinggul patah sebelum 15 Agustus 2008 dan sisanya tidak.
Analisis menunjukkan kandung omega 3 spesifik yang dihubungkan dengan penurunan resiko tulang pinggul patah adalah ALA (alpha-linolenic acid) dari sumber nabati seperti minyak flaxseed dan kacang-kacangan dan EPA (eicosapentaenoic acid) dari ikan. Tetapi, omega-3 yang bersumber dari seafood, DHA (docosahexaenoic acid) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Hasil yang dipublikasikan di Journal of Bone and Mineral Research juga menunjukkan wanita dengan rasio omega-6 lebih banyak dari omega 3 mempunyai risiko dua kali lipat patah tulang pinggul. Komponen utama asam lemak omega-6 adalah linoleic acid yang ditemukan di dalam jagung, kacang kedelai, dan minyak bunga matahari.
βWalaupun masih terlalu awal untuk memberikan rekomendasi nutrisi berdasarkan hasil penelitian, saya pikir studi ini menguatkan rekomendasi untuk menambah asupan omega-3 dalam bentuk ikan dan nabati untuk menghindari patah tulang pinggul,β tutur Tonya Orchard selaku penulis utama studi ini.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN