Menurut peneliti, rasa lapar bisa mengubah pengambilan keputusan antara bagian-bagian otak yang berbeda. Refleks fight-or-flight alami yang terjadi pada hewan jadi berubah.
Respons fight-or-flight adalah reaksi fisiologis yang terjadi sebagai respons atas bahaya, serangan, atau ancaman kelangsungan hidup. Jadi pilihannya adalah berjuang (fight) atau melarikan diri (flight).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ilmuwan dari Max Planck Institute of Neurobiology di Martinsried, Jerman, menguji teori bahwa sel syaraf tertentu yang memengaruhi pengambilan keputusan dapat diaktifkan dan dinonaktifkan dengan berbagai tingkatan lapar. Mereka menggunakan lalat buah dalam risetnya.
Lalat buah secara naluriah takut akan karbondioksida dalam kadar rendah sekalipun karena diasosiasikan dengan bahaya. Namun, mereka memakan buah dan tanaman busuk yang mengeluarkan gas tersebut. Terjadi konflik antara bagian sistem syaraf yang menyuruh lalat untuk melarikan diri dengan area yang menginstruksikan mereka untuk menyantap makanan tersebut.
Cara lalat tetap makan meski terdapat karbondioksida menunjukkan bahwa secara naluriah otak dengan senang hati mengambil risiko demi mendapat makanan.
"Melihat sejauh mana proses metabolisme dan rasa lapar memengaruhi sistem pemrosesan di otak adalah hal yang menarik," ujar peneliti Dr Grunwald-Kadow, seperti diberitakan Daily Mail (26/06/13).
(/)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN