Dalam era serba digital ini, gaya hidup anak sudah pasti bersentuhan dengan berbagai program dan iklan di media. Promosi junk food yang kaya lemak jenuh, lemak trans, gula, dan garam selama bertahun- tahun telah menjadi faktor utama obesitas pada anak serta penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker.
βAnak dikelilingi oleh iklan yang mendorong mereka untuk mengkonsumsi makanan yang tinggi lemak, gula, dan garam bahkan di tempat yang mereka seharusnya dilindungi seperti sekolah dan fasilitas olahraga,β tutur Zsuzsanna Jakab selaku kepala WHO unit area Eropa kepada Reuters (19/05/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan menunjukkan beberapa tahun ini angka obesitas tidak semakin membaik. Data Childhood Obesity Surveillance Initiative dari WHO menunjukkan rata-rata satu dari anak umur 6-9 tahun mengalami obesitas dan kelebihan berat badan.
Paparan iklan dan taktik pemasaran menggeser faktor obesitas karena anak cenderung tidak aktif saat berada di depan TV. Kategori utama iklan berkaitan dengan makanan antara lain soft drink, sereal sarapan manis, biskuit, camilan manis, makanan siap saji, dan outlet fast food.
βSayangnya langkah promosi tersebut sangat efektif pada anak, saat orang dewasa sudah menyadari mereka menjadi target pasar, anak tidak bisa membedakan antara iklan dan kartun. Hal ini yang membuat mereka rentan terhadap pilihan makanan tidak sehat,β tambah Jakab.
Walaupun 53 negara anggota area Eropa sudah ambil bagian pada penetapan regulasi pemasaran makanan tidak sehat untuk anak. Kebanyakan masih bergantung pada peraturan periklanan umum yang tidak secara spesifik merujuk pada promosi produk makanan tinggi lemak, garam, dan gula.
(flo/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN