Probiotik Yogurt Pengaruhi Respons Emosi pada Wanita

Probiotik Yogurt Pengaruhi Respons Emosi pada Wanita

- detikFood
Selasa, 18 Jun 2013 14:00 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Yogurt biasanya disantap untuk menyehatkan pencernaan, sebagai sumber kalsium, atau sebagai camilan biasa. Namun, penelitian menunjukkan bahwa probiotik dalam yogurt ternyata juga bermanfaat bagi otak wanita.

Sekelompok ilmuwan dari University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat, meneliti 36 orang wanita usia 18-55 tahun. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, di mana kelompok pertama menyantap yogurt spesifik yang mengandung campuran beberapa probiotik dua kali sehari.

Sementara itu, kelompok kedua memakan produk olahan susu yang tampilan dan rasanya mirip yogurt, tapi tak mengandung probiotik. Sisanya tidak memakan apapun. Para partisipan menjalani scan otak (fMRI) sebelum dan sesudah periode empat minggu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti melihat otak wanita pada keadaan istirahat dan saat merespons tugas pengenalan emosi. Pada tugas pengenalan emosi ini, para peserta melihat serangkaian gambar orang dengan wajah marah atau ketakutan. Mereka diminta mencocokkannya dengan wajah lain yang menunjukkan emosi serupa.

Tes ini dirancang untuk mengukur keterlibatan area afektif dan kognitif otak dalam merespons rangsang visual. Selain itu, percobaan tersebut juga dipilih karena penelitian sebelumnya pada hewan menemukan kaitan antara perubahan flora usus dengan tingkah laku afektif.

Kesimpulannya, wanita yang rutin mengonsumsi probiotik dalam yogurt menunjukkan perubahan fungsi otak, baik dalam kondisi beristirahat maupun saat merespons tugas pengenalan emosi. Artinya, perubahan mikrobiota (lingkungan bakteri) dalam usus dapat berpengaruh pada otak.

"Temuan kami mengindikasikan beberapa kandungan yogurt bisa mengubah cara otak merespons lingkungan," ujar Kirsten Tillisch, MD, dari UCLA, seperti dilansir situs Red Orbit (29/05/13). Terbukti bawa efek otak tak hanya terkait emosi, tapi juga pemrosesan sensor.

Sebelumnya sudah diketahui bahwa otak mengirimkan sinyal ke usus. Makanya, stres dan emosi lain dapat memicu masalah pencernaan. Namun ternyata sinyal ini juga berlaku sebaliknya.

"Berkali-kali kami mendengar bahwa pasien tak pernah merasa depresi atau cemas hingga mereka mulai mengalami masalah di usus. Studi kami menunjukkan bahwa kaitan usus dengan otak adalah hubungan dua arah," jelas Tillisch dalam jurnal Gastroenterology.

Menurut para peneliti, temuan ini membawa implikasi signifikan bagi penelitian yang akan datang terkait intervensi makanan atau obat dalam memperbaiki fungsi otak.

(fit/odi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads