Bubuk Kakao Terbukti Bantu Turunkan Risiko Diabetes dan Obesitas

Bubuk Kakao Terbukti Bantu Turunkan Risiko Diabetes dan Obesitas

- detikFood
Kamis, 13 Jun 2013 13:55 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Secangkir hot chocolate bisa mengusir dingin saat musim hujan. Sebuah penelitian terbaru menyatakan kandungan dalam kakao bisa mengendalikan penyakit yang berhubungan dengan inflamasi seperti diabetes dan obesitas.

Studi yang dilakukan oleh Penn State University menguji tikus yang diberikan suplemen kakao saat diberikan diet kaya lemak, tikus yang menjalani diet kaya lemak tanpa suplemen, dan tikus yang menjalani diet rendah lemak. Tikus-tikus tersebut mengonsumsi 10 sendok makan bubuk kakao yang setara dengan empat hingga lima hot chocolate selama 10 minggu.

Tim peneliti melaporkan penurunan pada beberapa tanda inflamasi dan diabetes pada tikus yang mengonsumsi suplemen kakao. Mereka mengalami penurunan 27 persen plasma insulin daripada tikus yang menjalani diet kaya lemak tanpa bubuk kakao. Hasil yang ditemukan hampir mirip pada tikus yang mengonsumsi diet rendah lemak dalam grup kontrol.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œSuplemen bubuk kakao juga menurunkan tingkat trigliserida hati dalam tikus lebih dari 32 persen,” tutur Joshua Lambert, associate professor teknik pangan di Penn State University kepada Live Science (13/05/2013). Menurut laporan yang dipublikasikan dalam European Journal of Nutrition para tikus juga menunjukkan penurunan drastis pada risiko peningkatan berat tubuh.

Tim peneliti mengasumsi lemak berlebihan yang masuk ke dalam tubuh bisa mengirimkan sinyal darurat pada tubuh sehingga sel imun menjadi aktif dan menyebabkan inflamasi. Kakao bisa menurunkan pemicu yang mengirimkan sinyal tersebut untuk memulai respon inflamasi.

John menganggap hal ini bisa merubah pandangan peneliti terhadap konsumsi kakao yang sesungguhnya rendah kalori, rendah lemak, dan tinggi serat. β€œKebanyakan penelitian tentang obesitas cenderung menghapuskan konsumsi konsumsi cokelat, tapi bubuk kakao yang sebenarnya rendah lemak dan gula, serta kaya kandungan polifenol,” tambah John.

(fit/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads