Studi terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Public Health menunjukkan, hanya 40 persen anak dan remaja berusia 9 sampai 18 tahun yang memperhatikan informasi kalori di restoran cepat saji.
Penelitian ini melibatkan 721 remaja dalam survei melalui surat. Pertanyaan yang diajukan, βKetika informasi kalori tersedia di makanan atau di restoran cepat saji, seberapa sering informasi ini membantu Anda memutuskan menu apa yang dipesan?β
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti juga menemukan, remaja yang rutin mengonsumsi fast food (makan dua kali seminggu atau lebih) memiliki 50 persen kemungkinan untuk mempertimbangkan informasi jumlah kalori sebelum memesan makanan dibanding remaja yang hanya mengonsumsi fast food sekali seminggu atau kurang.
Menurut penulis studi tersebut, remaja yang kelebihan berat badan memiliki 70 persen kemungkinan untuk menggunakan infomasi kalori sebelum memesan makanan dibanding dengan remaja yang berat badannya normal.
βTemuan kami penting mengingat tingginya angka obesitas di kalangan remaja dan efek kesehatan buruk yang terkait obesitas,β ujar penulis Holly Wethington dari Center for Disease Control and Preventionβs Division of Nutrition.
Wethington mengatakan, temuan ini menggembirakan, karena ternyata para remaja obesitas memberikan perhatian pada informasi kalori.
Selain informasi kalori, kesadaran merupakan hal penting untuk mengatasi masalah obesitas. Professor Lindsey Davies dari U.K. Faculty of Public Health mengatakan, βUntuk mengatasi obesitas secara efektif, kita perlu tahu lebih banyak alasan mengapa banyak remaja yang sering makan fast food.β
Pada September tahun lalu, McDonald mulai memajang informasi kalori pada papan menu. Hukum kesehatan federal yang baru di Amerika juga meminta rantai restoran dan perusahaan makanan cepat saji untuk mencetak informasi kalori disamping pilihan menu. Namun, bagian dari hukum ini belum dilaksanakan.
(odi/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN