Tercatat 1 dari 20 Anak di Amerika Alergi Makanan

Tercatat 1 dari 20 Anak di Amerika Alergi Makanan

- detikFood
Selasa, 07 Mei 2013 06:55 WIB
Foto: Huffington Post
Jakarta - Alergi makanan merupakan reaksi sistem kekebalan yang terjadi setelah mengonsumsi makanan tertentu. Sedikit makanan bisa menyebabkan alergi. Seperti gatal-gatal, bengkak pada saluran pernapasan, hingga masalah pencernaan.

Survei pemerintah Amerika Serikat terbaru menunjukkan, orang tua melaporkan lebih banyak anak mereka yang menderita alergi makanan dan alergi kulit. Saat ini para ahli belum yakin tentang penyebab kenaikan angka ini.

β€œKami tidak punya jawabannya,” ujar Dr. Lara Akinbami sebagai penulis senior di Centers for Disease Control and Prevention.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilansir dari Huffington Post (06/05/2013), Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan sekitar 1 dari 20 anak-anak di Amerika memiliki alergi makanan. Angka ini meningkat 50 persen sejak akhir tahun 1990.

Alergi makanan paling ditakuti, karena pada kasus yang parah bisa menyebabkan shock anafilaksis atau bahkan kematian.

Untuk mengetahui jumlah anak-anak yang menderita alergi makanan sangatlah sulit. Untuk itu, para ahli membandingkan survei tahunan terhadap ribuan orang tua yang diwawancarai langsung pada tahun 1997-1999 dan tahun 2009-2011.

β€œKita melihat banyak anak-anak di klinik yang sebenarnya tidak alergi makanan tertentu. Ini hanya kekhawatiran orang tua mereka saja,” ujar Dr. Morton Galina, ahli alergi anak di Atlanta’s Emory School of Medicine.

Menurut Galina, para orang tua sering menyalahkan makanan sebagai penyebab gatal-gatal pada anak. Padahal penyebab sebenarnya adalah virus. Tetapi para ahli juga yakin, ada peningkatan jumlah alergi pada anak-anak secara keseluruhan.

Salah satu teori yang populer adalah β€œthe hygiene hypothesis,” yang mengatakan bahwa paparan kuman dan parasit pada anak usia dini bisa mencegah tubuh terserang alergi tertentu.

Hipotesis ini didasarkan pada pendapat para ahli yang menilai adanya pergesaran budaya masyarakat Amerika yang sering mengonsumsi antibiotik dan terlau higienis. Pendapat ini juga didukung fakta, anak-anak yang lahir di luar Amerika memiliki angka alergi yang lebih rendah.

Beberapa ahli juga menduga beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya alergi makanan, seperti polutan udara di kota-kota besar dan evolusi dalam industri makanan, seperti persilangan gandum dan penggunaan antibiotik pada sapi.

Dalam keluarga dengan riwayat alergi makanan, orang tua disarankan untuk menunggu selama bertahun-tahun sebelum memperkenalkan makanan penyebab alergi parah (seperti kacang, susu, dan telur), pada anak-anak mereka.

Namun, beberapa tahun lalu para ahli mengubah pandangan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan, alergi lebih mungkin terserang pada anak-anak yang terlambat diperkenalkan pada berbagai jenis makanan, termasuk susu, kacang, dan telur.

(odi/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads