Jessie de Witt Huberts dan rekan-rekannya dari Department of Clinical and Health Psychology, Utrecht University, Belanda mengadakan eksperimen kepada 148 mahasiswi. Para mahasiswi diundang ke laboratorium dengan dalih sesi mencicipi makanan untuk jaringan supermarket.
Mereka ditinggal sendirian selama 10 menit untuk mencicipi makanan tinggi kalori seperti keripik dan kacang berlapis cokelat. Juga makanan rendah kalori seperti biskuit dan potongan apel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil menunjukkan orang yang terlalu sering berdiet, khawatir tentang apa yang mereka makan, dan perubahan berat badan ternyata mengkonsumsi jumlah makanan sebanyak wanita lainnya. Termasuk juga makanan tinggi kalori.
Mereka juga punya rasa bersalah setelahnya, terutama dalam mengonsumsi makanan yang baru dimakan. Tim penulis menyimpulkan bahwa sangat penting untuk belajar lebih banyak mengapa pelaku diet gagal. Dalam studi ini terdapat 45 persen dari partisipan yang berdiet.
βTerlepas dari maksud baik mereka, orang yang terlalu menjaga makanan mereka malah tidak mendapatkan apa-apa dan kalah dua kali lipat,β kata tim peneliti dalam Journal Psychology & Health (04/03/2013).
βPembatasan makanan tidak berhubungan dengan konsumsi makanan. Namun, berhubungan dengan peningkatan rasa bersalah setelah makan,β tambah peneliti. Penelitian menunjukkan peningkatan rasa bersalah bisa berujung pada kenaikan emosi negatif.
Untuk diet yang tidak menyiksa, Anda bisa beralih pada diet Volumetrics. Diet gagasan ahli nutrisi Barbara Rolls, Ph.D. ini mengutamakan porsi besar dalam menu makan. Tetapi, makanan yang dipilih harus rendah lemak.
(flo/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN