Peneliti dari University of Massachusetts dan Harvard meneliti 3.000 wanita yang bebas dari gejala PMS di awal studi. Para peserta mengisi kuesioner frekuensi makanan selama 10 tahun. Di akhir penelitian, 1.057 wanita didiagnosis mengalami PMS, sementara 1.968 wanita bebas gejala PMS.
Dalam American Journal of Epidemiology, ditemukan bahwa wanita yang mengonsumsi zat besi non-heme (berasal dari sumber nabati) paling banyak, 40% lebih rendah risikonya mengalami PMS. Peneliti yakin bahwa zat besi terlibat dalam produksi serotonin, zat kimia yang membantu mengatur mood.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari penelitian tersebut, diketahui bahwa tingkat asupan zat besi pada wanita yang rendah risiko PMSnya adalah sekitar 20 mg per hari. Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding anjuran zat besi harian bagi wanita usia menjelang menopause, yakni 18 mg per hari.
Bagaimanapun juga, Bertone-Johnson mengingatkan, asupan zat besi berlebihan bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Zat besi yang menumpuk di jaringan organ selama bertahun-tahun dapat menimbulkan hemochromatosis. Jika sudah serius, kondisi ini bisa menyebabkan diabetes, kanker hati, arthritis, dan gagal jantung.
"Wanita sebaiknya menghindari konsumsi zat besi melebihi kadar yang diperbolehkan, yakni 45 mg per hari, kecuali jika disarankan oleh dokter," kata Bertone-Johnson.
(fit/odi)

KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN