Diet Kaya Buah dan Sayur Juga Berefek Buruk pada Lingkungan

Diet Kaya Buah dan Sayur Juga Berefek Buruk pada Lingkungan

- detikFood
Rabu, 13 Feb 2013 08:30 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta - Diet sayuran dan buah makin populer. Namun, pola diet ini ternyata tidak ramah lingkungan. Mengingat jumlah sayuran dan buah yang dikonsumsi meningkat sehingga konsumsi energi juga naik. Inilah yang dibuktikan oleh sebiuah riset di Prancis.

Riset ini dilakukan oleh National Research Institute of Agronomy di Marseille, Perancis . Menganalisa kebiasaan makan masyarakat Prancis dan emisi gas kaca yang dihasilkan dari produksi sayuran, ikan, daging, unggas, dan bahan makanan lainnya.

Studi yang dipimpin oleh Nicole Darmon ini menggunakan catatan makanan 1,918 masyarakat Prancis dewasa dari tahun 2006- 2007 untuk membandingkan kualitas nutrisi dari diet seseorang dan jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah itu, para peneliti mengidentifikasi 400 makanan yang paling banyak dikonsumsi dan menghitung jumlah gram karbon dioksida yang setara dengan per 100 gram bahan makanan.

Semua aspek diperhitungkan sampai proses memasak bahan makanan tersebut. Peneliti melihat lebih dalam berapa gram karbon dioksida yang dihasilkan per 100 kilocalorie (kcal). Gas rumah kaca terbanyak dihasilkan adalah 857 gram dari 100 kcal daging, sedikit lebih banyak dibandingkan produksi sayuran dan buah.

Diteliti lebih kanjut apa yang sebenarnya dimakan orang untuk mendapatkan jumlah energi tertentu dari makanan yang dimakan sehari-hari. Ia menemukan bahwa jumlah emisi gas rumah kaca dalam diet banyak sayuran, buah, dan ikan hampir sama jumlahnya dengan diet kualitas rendah yang mengonsumsi banyak makanan tinggi garam dan pemanis.

Secara keseluruhan, diet tersebut bertanggung jawab sekitar 5000 gram emisi gas rumah kaca per hari per orang. β€œHal ini berkaitan dengan orang yang mengkonsumsi diet kaya sayuran butuh makanan lebih banyak untuk mencukupi energi yang setara dengan sepotong daging,” kata Nicole Darmon kepada Fox New (12/02/2013).

β€œPenemuan ini mengejutkan mengingat selama ini orang berpendapat bahwa daging merah yang menyebabkan kerusakan lingkungan,” kata Roni Neff dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health's Center. Sebelumnya ia meneliti tentang kontribusi makanan terhadap perubahan iklim.

(dyh/odi)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads